Halusinasi Kompetensi Kaum Kontrang-kantring

Halusinasi Kompetensi Kaum Kontrang-kantring

ILUSTRASI Halusinasi Kompetensi Kaum Kontrang-kantring.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Mereka fasih mengoperasikan alat, tetapi gagap memahami esensi. Ketika melangkah ke dunia nyata atau pasar kerja yang menuntut kepemimpinan nyata, keputusannya tidak bisa lagi digantungkan pada mesin. 

Di situlah rasa kontrang-kantring itu menyeruak. Mereka sadar bahwa hasil karya yang mereka hasilkan bukanlah cermin dari kedalaman kapasitas diri, melainkan sekadar pantulan dari kapasitas mesin.

Akibatnya, batas antara identitas profesional diri dan efisiensi mesin menjadi kabur. Anak muda mulai mengalami krisis eksistensial: jika AI bisa melakukan pekerjaan ini dalam hitungan detik, lalu di mana nilai tawar unik saya sebagai manusia?

Terjebak di Dalam Labirin Algoritma

Persoalan itu kian kompleks ketika kita melihat bagaimana sistem rekomendasi dan algoritma media memetakan realitas. Data APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) tahun 2025 mencatat, tingkat penetrasi internet Indonesia telah menembus di atas 79 persen, dengan porsi terbesar didominasi gen Z dan milenial yang menghabiskan rata-rata 7 hingga 8 jam sehari di layar gawai.

Algoritma media sosial dirancang dengan prinsip attention economy dengan memaksimalkan atensi, tidak hanya menyajikan realitas secara utuh. Setiap hari generasi digital dibombardir oleh konten-konten kesuksesan instan (AI-driven micro-careers, kesuksesan startup kilat, atau pendapatan fantastis dari ekosistem digital).

Secara tidak sadar, algoritma menciptakan echo chamber dan cermin cembung realitas. Teori social comparison dari Leon Festinger menemukan bentuk ekstremnya di era digital: anak muda dipaksa membandingkan ”proses internal” mereka yang berdarah-darah dan penuh ketidakpastian dengan ”hasil akhir terkurasi” milik orang lain di media sosial.

Situasi itu melahirkan algorithmic paralysis berupa kelumpuhan bernavigasi akibat algoritma. Daripada mengambil keputusan hidup secara mandiri berdasar nilai dan intuisi, banyak anak muda menjadi pasif, menunggu ”petunjuk” atau tren apa yang sedang diangkat algoritma. 

Keputusan karier, gaya hidup, hingga pilihan pendidikan diarsitekturi oleh kalkulasi mesin. Algoritma bekerja berdasarkan ekstrapolasi data masa lalu, sedangkan masa depan anak muda membutuhkan lompatan imajinasi dan keberanian yang tidak pernah terdata dalam server mana pun.

Mengembalikan AI sebagai Kopilot, Bukan Pengemudi

Lantas, bagaimana agar teknologi tidak terus-menerus membuat generasi kita kontrang-kantring?

Kita harus meredefinisi hubungan manusia dengan teknologi. Dalam perspektif teori kritis komunikasi, kita tidak boleh terjebak dalam technological determinism, yaitu keyakinan pasif bahwa teknologilah yang sepenuhnya menentukan nasib dan struktur sosial manusia. Teknologi adalah artefak budaya, dan manusialah yang memegang kedaulatan atas makna.

Kerangka kerja UNESCO mengenai AI competency framework menekankan bahwa pendidikan masa kini harus menggeser fokus dari sekadar ”literasi penggunaan AI” menuju literasi AI kritis (critical AI literacy). 

Anak muda tidak boleh hanya diajari cara prompt engineering agar efisien, tetapi juga harus dibekali kemampuan kritis untuk, pertama, mempertanyakan algoritma (algorithmic auditing): memahami bahwa AI memiliki bias bawaan (algorithmic bias), batas validasi data, dan tidak memiliki kesadaran etis maupun rasa empati.

Kedua, navigasi kognitif: menggunakan AI sebagai kopilot (mitra berpikir dan akselerator), bukan pengemudi tunggal yang menentukan ke mana arah hidup harus dituju. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: