Piala Dunia sebagai Kohesi Sosial

Piala Dunia sebagai Kohesi Sosial

ILUSTRASI Piala Dunia sebagai Kohesi Sosial.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal dapat memulai percakapan hanya dengan satu pertanyaan sederhana: ”Malam ini mendukung siapa?” Percakapan tersebut tampak ringan, tetapi sebenarnya membuka ruang komunikasi yang mempertemukan banyak individu dalam suasana yang egaliter. 

Menurut Coakley (2021) dalam bukunya yang berjudul Sports in society: Issues and controversies, olahraga memiliki kemampuan menciptakan ruang sosial yang memungkinkan interaksi antarkelompok yang sebelumnya tidak memiliki hubungan langsung.

Di Indonesia, fenomena tersebut tampak sangat jelas. Meskipun tim nasional Indonesia belum menjadi peserta tetap Piala Dunia, antusiasme masyarakat terhadap turnamen itu sangat tinggi. 

BACA JUGA:Jeda Piala Dunia

BACA JUGA:Mafia Bola dan Piala Dunia

Hampir setiap kampung menyelenggarakan kegiatan nonton bareng di balai RT, pos ronda, halaman rumah, maupun warung kopi. Televisi berukuran besar dipasang, layar proyektor dibentangkan, sementara warga membawa kursi dari rumah masing-masing. 

Tidak sedikit pula yang membawa makanan ringan untuk dinikmati bersama selama pertandingan berlangsung.

Aktivitas tersebut memperlihatkan bagaimana sepak bola mampu menciptakan ruang publik yang hidup. 

Anak-anak duduk berdampingan dengan orang tua, mahasiswa bercengkerama dengan pedagang, pegawai negeri berbincang santai dengan tukang becak, sementara ibu-ibu ikut menikmati suasana pertandingan. 

Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi seperti itu belum tentu terjadi. Piala Dunia menghadirkan kesempatan bagi berbagai kelompok sosial untuk berbagi ruang, waktu, dan pengalaman secara bersama.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa olahraga mampu membangun modal sosial (social capital). Putnam (2000) mendefinisikan modal sosial sebagai jaringan hubungan, rasa saling percaya, dan norma kerja sama yang memudahkan masyarakat mencapai tujuan bersama. 

Ketika warga sering berkumpul dalam suasana yang menyenangkan, tingkat kepercayaan antar sesama meningkat. Kepercayaan tersebut kemudian menjadi fondasi bagi lahirnya berbagai bentuk kerja sama sosial di lingkungan masyarakat.

Lebih jauh lagi, kohesi sosial yang dibangun oleh Piala Dunia tidak hanya terjadi pada tingkat lokal, tetapi juga pada tingkat global. 

Selama turnamen berlangsung, miliaran orang menyaksikan pertandingan yang sama, merasakan ketegangan pada menit-menit terakhir, bersorak ketika gol tercipta, dan ikut bersedih ketika tim favorit mereka tersingkir. 

Pengalaman emosional yang dialami secara bersamaan tersebut menciptakan rasa kebersamaan lintas batas negara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: