Indonesia di Piala Dunia, Cuma Mimpi?: Refleksi Piala Dunia FIFA 2026

Indonesia di Piala Dunia, Cuma Mimpi?: Refleksi Piala Dunia FIFA 2026

ILUSTRASI Indonesia di Piala Dunia, Cuma Mimpi?: Refleksi Piala Dunia FIFA 2026.-Arya/AI-Harian Disway-

Kemampuan tersebut dapat dilatih melalui pembelajaran taktik, kompetisi berkualitas, analisis video, simulasi pertandingan, dan pendekatan neurosains dalam latihan.

Karena itu, naturalisasi seharusnya dipandang sebagai akselerator, bukan fondasi utama. Kehadiran pemain yang dibesarkan di Eropa membawa standar profesionalisme, kultur latihan, dan pengalaman kompetisi yang sangat berharga. 

Mereka dapat menjadi jembatan pengetahuan bagi pemain lokal. Namun, apabila sepuluh atau dua puluh tahun mendatang Indonesia masih bergantung kepada pemain naturalisasi untuk mengisi mayoritas tim nasional, berarti ada sesuatu yang gagal diperbaiki dalam sistem pembinaan nasional.

Masuk ke Piala Dunia tentu merupakan mimpi yang layak diperjuangkan. Namun, mimpi tersebut tidak boleh berhenti pada satu generasi pemain atau satu siklus naturalisasi. 

Mimpi itu harus diwujudkan melalui investasi pada gizi anak, kesehatan ibu, pembinaan usia dini, sport science, kualitas pelatih, kompetisi yang sehat, tata kelola federasi, serta sistem pencarian bakat yang objektif.

Piala Dunia 2026 telah usai. Spanyol pulang membawa trofi, sementara negara-negara lain membawa pelajaran. Indonesia seharusnya membawa keduanya: mimpi dan refleksi. 

Sebab, ukuran keberhasilan bukan hanya suatu hari nanti mampu berdiri di panggung Piala Dunia, melainkan mampu tiba di sana melalui hasil pembinaan sendiri, bukan semata-mata meminjam kualitas dari sistem negara lain. 

Pada akhirnya, Piala Dunia tidak hanya dimenangkan oleh sebelas pemain di lapangan. Ia dimenangkan oleh sebuah sistem yang selama bertahun-tahun membentuk sebelas pemain tersebut. (*)

*) Asra Al Fauzi adalah guru besar Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, dan pemerhati sepak bola.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: