Kisah Laba-Laba Selat Hormuz

Kisah Laba-Laba Selat Hormuz

ILUSTRASI Kisah Laba-Laba Selat Hormuz.-Arya/AI-Harian Disway-

Padahal, kita dipaksa membeli tiket pertunjukan itu. Dengan harga yang mencekik. Tiap kali jaring Hormuz ditarik, APBN kita menjerit. Rupiah hancur. Inflasi merampok. Data kita bocor. Dompet kita terkuras. Tapi, itulah rahasia yang tidak kita sadari.

Rathalos inagami bukanlah mangsa. Ia adalah predator penyergap. Ia diam bukan karena takut. Ia diam karena sedang membaca getaran alam.

Kita punya posisi strategis. Kita punya kekayaan alam. Kita punya demografi raksasa. Kita tidak perlu menjadi agresif seperti Iran. Tidak perlu manipulatif seperti Rusia. Tidak perlu predator seperti Tiongkok.

Kita hanya perlu menjadi diri kita sendiri. Rathalos inagami. Laba-laba hantu yang diam. Tapi, siap bergerak ketika waktunya tiba.

Sudah waktunya kita belajar dari filosofi laba-laba. Diam tidak berarti pasrah. Menunggu tidak berarti malas. Membaca getaran tidak berarti takut. Kita bisa menjadi pemain di panggung ini. Tanpa harus menjadi agresif. Tanpa harus menjadi manipulatif. Dengan langkah-langkah kecil yang kokoh. 

Mulai dari sekarang. Putus ketergantungan pada minyak asing. Manfaatkan energi kita sendiri. Bangun infrastruktur digital yang berdaulat. Latih sumber daya manusia yang tangguh. Karena pertarungan laba-laba ini tidak akan pernah berhenti.

Tapi, kita bisa mengubah posisi kita. Dari penonton. Menjadi pemain utama. Dari lalat yang terperangkap tak berdaya. Menjadi laba-laba yang memintal jaring pemasang jebakan. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: