Tidak Kontrang-kantring, Kami Sedang Mencari Jalan

Tidak Kontrang-kantring, Kami Sedang Mencari Jalan

Amarantine Salsabila Putrisiwi adalah mahasiswi Fakultas Sastra Jepang, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.--

Demikian pula anggapan bahwa gen Z tidak mau bekerja keras. Sesungguhnya banyak dari gen Z yang memilih bekerja lebih cerdas (work smarter) tanpa menghilangkan kerja keras (work harder). 

Efisiensi bukanlah kemalasan, melainkan kemampuan memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan keluaran yang sama atau bahkan lebih baik dengan sumber daya yang lebih efektif.

BACA JUGA:Dari Kontrang-kantring Menuju Generasi Bertumbuh

BACA JUGA:Kontrang-kantring di Era Digital: Siapa Yang Menuntun Generasi Muda?

Ironisnya, setiap inovasi sering kali terlebih dahulu dianggap sebagai penyimpangan. Friedrich Nietzsche pernah mengingatkan, ”siapa yang memiliki alasan untuk hidup akan mampu menghadapi hampir segala cara hidup.” 

Barangkali yang sedang dilakukan gen Z bukanlah kehilangan arah, melainkan mencari cara hidup yang lebih sesuai dengan tantangan zamannya.

Di sisi lain, saya juga sepakat bahwa kebebasan tanpa pengalaman dapat melahirkan kebingungan. Karena itu, generasi muda tetap membutuhkan bimbingan. Akan tetapi, bimbingan berbeda dengan dominasi. 

Pengalaman tidak otomatis menjadi kebenaran mutlak hanya karena datang dari generasi yang lebih tua. Pengalaman akan lebih mudah diterima ketika disampaikan sebagai dialog, bukan sebagai vonis.

Ada satu hal menarik dari artikel yang saya tanggapi, yakni penggunaan istilah kontrang-kantring. Jujur, saya belum pernah mendengar istilah tersebut. Setelah saya cari, ternyata itu istilah bahasa Jawa untuk ”mondar-mandir, hilang arah, bingung, hidupnya tidak beraturan”. 

Pemilihan metafora lokal tentu memperkaya khazanah bahasa, tetapi dalam media massa yang menyasar pembaca luas, penggunaan istilah yang lebih umum mungkin akan membuat pesan lebih mudah dipahami tanpa kehilangan kekuatan maknanya. Apalagi, jika tulisan itu ditujukan bagi kami, gen Z.

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah gen Z salah atau generasi sebelumnya benar. Yang lebih penting adalah bagaimana kedua generasi bersedia saling mendengar. Sebab, setiap generasi memang lahir pada zaman masing-masing, tetapi tidak satu pun yang memiliki monopoli atas kebenaran.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya, ”mengapa gen Z berbeda?” dan mulai bertanya, ”apa yang bisa dipelajari setiap generasi dari perbedaan itu?” Sebab, masa depan tidak dibangun oleh satu generasi yang merasa paling benar, melainkan oleh generasi-generasi yang bersedia tumbuh bersama. (*)

*) Amarantine Salsabila Putrisiwi adalah mahasiswi Fakultas Sastra Jepang, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: