Nasi Uduk, Rumor, dan Api Konflik

Nasi Uduk, Rumor, dan Api Konflik

ILUSTRASI Nasi Uduk, Rumor, dan Api Konflik.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

NASI UDUK hanya menjadi awal dari cerita. Setelah bentrokan pecah, kabar ikut beredar bersama kepanikan di jalan. Ada informasi yang benar, ada yang setengah benar, dan ada pula yang hoaks. Ketika semuanya bercampur baur, masyarakat sulit membedakan fakta dengan rumor yang lahir dari suasana panas.

Bentrokan di Jalan Tambak, Kelurahan Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, terjadi pada Minggu, 26 Juli 2026. Berdasar penyelidikan sementara polisi, keributan bermula di sekitar pedagang nasi uduk. Masalah kemudian melebar menjadi perusakan dan pengeroyokan

Polisi menetapkan tujuh tersangka dalam dua perkara. Empat orang terkait perusakan gerobak pedagang, sedangkan tiga lainnya dalam perkara pengeroyokan yang mengakibatkan satu korban jiwa meninggal dunia.

Di tengah suasana yang belum sepenuhnya stabil, beredar pula rumor bahwa sebuah rumah ibadah ikut dirusak. Polisi memeriksa lokasi dan berkoordinasi dengan pihak rumah ibadah. Kabar itu kemudian segera dibantah. Sama sekali tidak ada rumah ibadah yang dirusak dalam bentrokan tersebut.

BACA JUGA:Mengapa Banyak Perkara Sepele Berakhir Pembunuhan?: Soal Status Ekonomi

BACA JUGA:Situasi Kalibata Kembali Kondusif Usai Bentrokan PKL Vs Matel

Klarifikasi itu penting. Bayangkan bila kabar tersebut beredar liar. Perkara kriminal yang melibatkan sejumlah orang dapat berubah menjadi isu agama atau isu rasial. Orang-orang yang tidak mengetahui awal kejadian bisa tersulut ikut marah karena merasa kelompoknya diserang.

Ketika Cerita Mendahului Fakta

Rumor umumnya tidak lahir dari ruang hampa. Ada kejadian nyata sebagai pangkalnya. Lalu, muncul bumbu-bumbu, tambahan cerita, dugaan, atau kesimpulan dari orang yang hanya melihat sebagian peristiwa. Setelah berpindah dari mulut ke mulut, satu telepon ke telepon lain, ceritanya bisa berubah cukup jauh.

Gordon Allport dan Leo Postman membahas keadaan semacam itu dalam buku The Psychology of Rumor yang terbit pada 1947. Gagasan mereka tentang psikologi rumor menjelaskan bahwa kabar yang belum pasti mudah tumbuh ketika sebuah peristiwa dianggap penting, sedangkan informasi yang tersedia masih kabur dan sulit dikonfirmasi.

Gagasan dari Allport memang lahir jauh sebelum era media sosial. Namun, dasarnya tetap relevan, masih berguna untuk membaca keadaan hari ini. Ada bentrokan, korban, bangunan yang rusak, dan kerumunan. Warga ingin segera tahu apa yang sebenarnya terjadi, sedangkan informasi yang lengkap belum tersedia.

Ruang yang kosong itu segera diisi cerita dan bumbu-bumbu. Satu orang mendengar dari temannya. Katanya begini, katanya begitu. Tidak ada yang benar-benar melihat kejadian, tetapi kabar terus berjalan. Setelah berulang kali diteruskan, orang mulai lupa bertanya dari mana cerita itu berasal.

Niat penyebarnya belum tentu buruk. Ada yang merasa sedang memperingatkan keluarga atau tetangga agar berhati-hati. Namun, tentu saja, kabar yang salah dapat menimbulkan akibat serius meski dibagikan dengan niat baik.

Prasangka Ikut Menentukan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: