Nasi Uduk, Rumor, dan Api Konflik
ILUSTRASI Nasi Uduk, Rumor, dan Api Konflik.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Manusia juga tidak menerima informasi dengan pikiran yang sepenuhnya netral. Pengalaman, ketakutan, kemarahan, dan persepsi terhadap kelompok lain ikut memengaruhi cara orang membaca kabar.
Raymond S. Nickerson melalui kajiannya tentang Confirmation Bias pada 1998 menjelaskan kecenderungan manusia mencari atau menafsirkan informasi dengan cara yang mendukung keyakinan, harapan, atau dugaan yang sudah dimiliki.
Informasi yang cocok dengan keyakinan individu biasanya lebih mudah diterima. Sebaliknya, kabar yang bertentangan cenderung diperiksa lebih keras atau segera diragukan.
Karena itu, rumor yang membawa nama agama, etnis, atau kelompok wilayah biasanya memiliki risiko yang besar. Orang yang sudah menyimpan kecurigaan dapat menganggap kabar tersebut sebagai bukti.
Mereka tidak lagi sibuk mencari urutan kejadian. Identitas pelaku segera dilekatkan kepada kelompoknya atau komunitas yang jauh lebih luas.
Pertengkaran antarorang lalu dipahami sebagai pertikaian antarkelompok. Kesalahan segelintir orang dibebankan kepada banyak orang yang tidak tahu apa-apa. Api semacam itu lebih sulit dipadamkan karena yang dipertaruhkan sudah menyentuh rasa aman, gengsi, dan kehormatan bersama.
Peran Media Sosial
Media sosial sering disebut sebagai sumber masalah. Anggapan itu bisa benar bisa salah. Pesan dapat berpindah dalam hitungan detik. Potongan video beredar tanpa konteks. Tangkapan layar lama bisa diberi keterangan baru. Pesan suara tanpa nama pengirim dianggap sebagai laporan langsung dari lokasi.
Di sisi lain, media sosial juga dapat dipakai untuk meluruskan kabar. Polisi, pemerintah daerah, media, tokoh agama, dan tokoh masyarakat mempunyai ruang yang sama untuk menjelaskan keadaan. Bedanya terletak pada kecepatan, kejelasan, serta kepercayaan warga kepada pihak yang berbicara. Yang ditakutkan, upaya meluruskan kabar sering datang terlambat.
Klarifikasi perlu disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Membantah saja kadang tidak cukup. Perlu data dan bukti yang memadai. Masyarakat perlu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, bagian mana yang sudah dipastikan, serta hal apa yang masih diperiksa.
Di sinilah tanggung jawab otoritas setempat menjadi lebih besar. Warga memang harus berhati-hati sebelum meneruskan kabar. Media harus memeriksa sumber. Tokoh agama dan tokoh masyarakat perlu kompak, membantu menenangkan lingkungan.
Meski begitu, arus informasi pada saat krisis tetap membutuhkan pihak yang memimpin. Penjelasan resmi yang terlambat memberikan kesempatan kepada kabar burung untuk membentuk kesimpulan lebih dahulu.
Tabayun di Depan Layar
Dalam pandangan Islam, sikap hati-hati dalam menerima berita mendapat perhatian yang sangat jelas. Q.S. Al-Hujurat ayat 6 mengingatkan agar sebuah kabar diperiksa terlebih dahulu sehingga orang tidak mencelakakan pihak lain karena ketidaktahuan, lalu menyesali tindakannya.
Tabayun kini bisa berlangsung di depan layar. Kalau mau, caranya mudah: melihat sumber berita, tidak mudah memberikan cap, memeriksa tanggal, membaca isi secara utuh, dan menahan diri ketika informasi belum jelas. Meluangkan waktu beberapa menit memeriksa kabar dapat mencegah kegaduhan yang jauh lebih panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: