Mendidik Intelektual Beradab: Mengapa Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Masih Penting?
ILUSTRASI Mendidik Intelektual Beradab: Mengapa Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Masih Penting?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Akibatnya, kehadiran mata kuliah PAI dalam pendidikan dasar bersama (PDB) di perguruan tinggi sering dipersepsikan sekadar sebagai pelengkap kurikulum atau bahkan pengulangan materi yang telah dipelajari sebelumnya. Pandangan itulah yang sesungguhnya perlu diluruskan.
Belajar Agama Tidak Berhenti di Masa Kanak-kanak
Kesalahpahaman mendasar yang selama ini berkembang adalah anggapan bahwa belajar agama merupakan fase yang selesai pada masa kanak-kanak. Ketika seseorang telah mampu membaca Al-Qur’an, melaksanakan salat, berpuasa, dan mengenal rukun Islam, ia sering merasa telah memiliki bekal keagamaan yang memadai.
Sementara itu, ketika memasuki perguruan tinggi, fokus belajar sepenuhnya dialihkan kepada ilmu profesi karena dianggap lebih menentukan masa depan. Cara pandang seperti itu sesungguhnya tidak sejalan dengan hakikat pendidikan dalam Islam yang menempatkan pencarian ilmu sebagai proses sepanjang hayat.
Tidak logis apabila seseorang mempelajari kedokteran hingga jenjang profesi, hukum hingga magister, teknik hingga doktoral, atau ekonomi hingga tingkat pakar, tetapi pemahaman agamanya masih berhenti pada tingkat ketika ia belajar di sekolah dasar atau taman pendidikan Al-Qur’an.
Persoalan hidup yang dihadapi seorang anak tentu sangat berbeda dengan persoalan yang akan dihadapi seorang dokter ketika menentukan pilihan medis, seorang hakim ketika memutus perkara, seorang insinyur ketika merancang teknologi, atau seorang pemimpin ketika mengambil kebijakan publik.
Makin tinggi ilmu yang dipelajari seseorang, makin kompleks pula persoalan moral yang akan dihadapinya. Oleh karena itu, kedewasaan intelektual semestinya diiringi oleh kedewasaan dalam memahami agama.
Pendidikan Dasar Bersama: Membangun Fondasi yang Sama
Di sinilah pendidikan dasar bersama (PDB) memperoleh relevansinya dalam sistem pendidikan tinggi. PDB tidak dirancang untuk menghasilkan lulusan yang memiliki profesi yang sama, tetapi untuk membangun fondasi nilai yang sama di tengah keberagaman disiplin ilmu.
Mahasiswa kedokteran, hukum, ekonomi, teknik, psikologi, kesehatan, ilmu sosial, maupun sains pada akhirnya akan mengabdi kepada masyarakat dengan tantangan profesi yang berbeda-beda. Namun, seluruhnya membutuhkan integritas, tanggung jawab, kejujuran, kepedulian sosial, dan kemampuan mengambil keputusan yang berlandaskan nilai-nilai moral.
Dalam konteks tersebut, pendidikan agama Islam tidak dimaksudkan untuk mencetak ulama, mubalig, ataupun ahli fikih. Fungsi utamanya adalah membentuk calon intelektual muslim yang mampu memandang disiplin ilmunya melalui perspektif nilai-nilai Islam.
Seorang mahasiswa tidak hanya dituntut menjadi ahli pada bidangnya, tetapi juga memahami untuk apa ilmunya digunakan, kepada siapa ilmunya dipertanggungjawabkan, dan kemaslahatan apa yang akan dihasilkan melalui ilmunya.
Dengan demikian, PAI menjadi jembatan yang menghubungkan kecerdasan intelektual dengan tanggung jawab moral.
Universitas dan Misi Membentuk Manusia Utuh
Gagasan tersebut sesungguhnya sejalan dengan filosofi pendidikan tinggi. John Henry Newman dalam The Idea of a University menegaskan bahwa universitas tidak semata-mata bertugas menghasilkan tenaga profesional, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki keluasan wawasan, ketajaman berpikir, dan kebijaksanaan dalam bertindak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: