Etika Kreator dan Affiliate Marketer di Tengah Godaan Konten AI
Ilustrasi ChatGPT--

Budiono.--
TULISAN sebelumnya membahas bahaya klaim palsu AI influencer dari sisi ekosistem social commerce Indonesia secara luas - dari kerugian konsumen, ancaman terhadap UMKM dan affiliate marketer yang jujur, hingga langkah yang perlu ditempuh platform dan kementerian, serta pentingnya peningkatan literasi digital masyarakat. Kali ini saya ingin turun satu lapis lebih dalam, bicara langsung dengan rekan sesama kreator konten dan affiliate marketer, karena pada akhirnya persoalan ini akan selalu kembali ke satu pertanyaan sederhana: batas mana yang masih boleh dilewati, dan batas mana yang sudah menabrak kejujuran.
Sebenarnya AI generatif bukan musuh. Ia adalah alat, kurang lebih sama seperti kamera dan aplikasi video editing yang sudah lebih dulu digunakan oleh para kreator. Etis atau tidaknya penggunaan AI bukan karena teknologinya, melainkan pada apa yang disimulasikan.
Menggunakan AI untuk meningkatkan warna video (color grading), menambah voice over, membuat subtitle otomatis, atau menyusun b-roll pelengkap, itu bagian dari efisiensi produksi yang sah. Tapi begitu AI dipakai untuk menciptakan adegan seolah-olah sedang mencoba pakaian, mencicipi makanan, mengoleskan krim ke kulit, atau merasakan khasiat suplemen yang sebenarnya tidak pernah dicoba sama sekali, maka AI bisa berubah menjadi alat penipuan.
Sebagai kreator konten yang selama bertahun-tahun mengembangkan kanal berbasis verifikasi harga, daerah asal pedagang, sejarah berdirinya warung, hari dan jam buka, kehalalan bahan baku dan proses memasak, hingga mencicipi dan memberikan ulasan jujur, saya meyakini satu prinsip yang bisa menjadi pegangan setiap affiliate marketer: jangan pernah membuat penonton percaya pada pengalaman yang tidak pernah benar-benar terjadi.
BACA JUGA:Jadi Kreator Konten Universe Label, Jang Dong Joo Prioritaskan Lunasi Utang
BACA JUGA:TikTok Perangi Konten AI Berkualitas Rendah, Siapkan Panduan untuk Kenali Video Buatan AI
Ulasan boleh dibantu AI dari sisi produksi, tapi harus tetap otentik, jujur dan berdasarkan pengalaman menggunakan atau menikmati yang sesungguhnya. Begitu klaim rasa, klaim khasiat, atau klaim pengalaman pribadi datang dari simulasi, bukan dari pengalaman nyata, maka itu sudah keluar dari koridor etika pemasaran, bahkan berpotensi masuk kategori penyesatan informasi sebagaimana diatur UU Perlindungan Konsumen dan UU ITE terbaru yang sudah dibahas di tulisan sebelumnya.
Godaan untuk menempuh jalan pintas ini nyata, dan saya paham betul pemicunya. Target komisi yang harus dikejar, algoritma yang lebih menyukai kuantitas daripada kualitas konten, juga kompetitor yang sanggup memproduksi ratusan hingga ribuan video sehari tanpa modal sepeserpun untuk membeli produk.
Ada juga yang mendapatkan sampel produk dari seller, tapi tidak benar-benar digunakan karena saking banyaknya sampel yang diterima dari para seller. Semua itu membuat sebagian kreator tergoda menghalalkan segala cara: menyimulasikan penggunaan, memfabrikasi ulasan, mendramatisasi khasiat, atau bahkan menciptakan sosok digital yang seolah-olah manusia sungguhan.
Namun, menurut saya, komisi yang didapat dari cara semacam ini adalah komisi yang cacat sejak awal. Ia dibangun di atas kepercayaan penonton yang dikhianati, bukan di atas nilai kejujuran. Affiliate marketing pada dasarnya adalah bisnis kepercayaan. Penonton membeli salah satunya karena percayai rekomendasi sang kreator, bukan semata karena diskon atau kemasan yang menarik. Sekali kepercayaan itu dibangun di atas ketidakjujuran, maka cepat atau lambat seluruh model bisnisnya kehilangan fondasi.
BACA JUGA:Bahaya Klaim Palsu AI Influencer dalam Ekosistem Social Commerce Indonesia
BACA JUGA:Menkeu Tegaskan PPh Final 0,5 Persen Hanya untuk UMKM, Influencer Tak Otomatis Dapat Insentif
Dan bagi saya pribadi, ada yang lebih penting dari sekadar fondasi bisnis: apakah komisi yang diraih dengan cara seperti itu masih pantas disebut berkah? Kalau ditelisik lebih lanjut, ternyata godaan ini pun tidak tumbuh begitu saja di ruang hampa. Makin maraknya kelas-kelas pelatihan yang mengajarkan cara instan meraup komisi besar dengan AI turut menjadi pendorong utama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: