Universitas Mengajar Kepemimpinan, tetapi ’Kampus Kehidupan’ yang Mencetak Pemimpin
ILUSTRASI Universitas Mengajar Kepemimpinan, tetapi ’Kampus Kehidupan’ yang Mencetak Pemimpin.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Jack Ma berkali-kali ditolak untuk pekerjaan yang dilamarnya, gagal masuk perguruan tinggi pada percobaan pertama, bahkan ditolak ketika melamar ke sebuah restoran makanan cepat saji KFC.
Namun, pengalaman itulah yang membentuk daya tahan psikologisnya. Mereka tidak berasal dari universitas yang sama. Kesamaannya adalah mereka semua pernah dipaksa berdialog dengan pahit getirnya sebuah kegagalan.
Warren Bennis dan Robert Thomas memperkenalkan konsep crucible leadership. Mereka menemukan bahwa hampir seluruh pemimpin luar biasa pernah mengalami satu atau beberapa peristiwa ekstrem yang mengubah hidupnya secara permanen.
Peristiwa tersebut dapat berupa kegagalan bisnis, peperangan, diskriminasi, kemiskinan, penjara, konflik organisasi, ataupun kehilangan orang-orang yang dicintai. Peristiwa itulah yang disebut crucible experience.
Bukan penderitaannya yang melahirkan pemimpin. Melainkan, kemampuan seseorang memberikan makna terhadap penderitaan tersebut.
Di sinilah letak perbedaan antara orang biasa dan pemimpin besar. Orang biasa melihat kegagalan sebagai akhir sebuah episode kehidupan. Sebaliknya, seorang pemimpin melihatnya sebagai awal pembentukan karakter.
Pemimpin Tidak Dilahirkan, tetapi Juga Tidak Diproduksi
Perdebatan klasik antara great man theory dan behavioral theory sebenarnya telah berkembang jauh. Riset kontemporer menunjukkan bahwa kepemimpinan merupakan hasil interaksi antara karakter pribadi, pengalaman hidup, lingkungan sosial, pembelajaran, budaya organisasi, dan tantangan yang dihadapi.
Ronald Heifetz melalui adaptive leadership menekankan bahwa pemimpin dibentuk ketika harus menyelesaikan persoalan yang belum memiliki jawaban baku. Sedangkan Robert Greenleaf melalui servant leadership menjelaskan bahwa kepemimpinan lahir dari kemauan melayani terlebih dahulu, bukan keinginan berkuasa.
Sementara itu, James MacGregor Burns dan Bernard Bass dalam teori transformational leadership menegaskan bahwa pemimpin besar mampu mengubah nilai dan aspirasi pengikutnya karena kredibilitas moral, bukan karena kekuasaan formal.
Seluruh pandangan dalam teori tersebut memiliki satu benang merah. Tidak ada yang mengatakan bahwa kepemimpinan cukup dipelajari melalui ceramah ataupun seminar.
Indonesia memang membutuhkan lebih banyak pemimpin berkualitas. Namun, bangsa ini tidak membutuhkan ”pabrik pemimpin” yang menghasilkan lulusan dengan sertifikat kepemimpinan, tetapi miskin pengalaman menghadapi kenyataan.
URI akan menjadi terobosan besar apabila berani meninggalkan paradigma pendidikan konvensional. Mahasiswanya seharusnya tidak hanya belajar di ruang kuliah.
Mereka perlu hidup bersama masyarakat miskin, memimpin proyek pembangunan desa, menangani konflik sosial, memimpin organisasi lintas disiplin, menghadapi kegagalan nyata, bahkan diberi ruang untuk melakukan kesalahan yang kemudian dievaluasi secara sistematis.
Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat menghafal teori kepemimpinan. Ia harus menjadi laboratorium karakter.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: