Jokowi Pakai Jalur Gelar Adat
JOKOWI menjalani ritual menginjak kepala kerbau saat menerima gelar kehormatan adat dari lima kerajaan adat di Kedaton Keagungan, Bandar Lampung pada Sabtu, 27 Juni 2026. -Instagram @media.lombok1-
JOKO WIDODO (Jokowi) memilih gelar adat daripada doktor honoris causa (H.C.). Ia pun menjadi mantan presiden paling banyak mengoleksi gelar dari raja dan lembaga adat di berbagai daerah.
Yang terbaru, dua gelar adat dikantongi Jokowi. Dari Lampung: baginda pemuka bangsa. Di Kupang ia menerima gelar: saudara raja-raja Timor. Saat ia menjabat presiden, ada 13 gelar adat yang diterima. Total 15 gelar.
Beda dengan Bung Karno, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY yang lebih antusias mendapat penghargaan doktor (H.C.). Yang memberinya kampus-kampus top. Rekor koleksi doktor kehormatan dipegang Bung Karno: 27 doktor H.C. (19 kampus luar negeri dan 7 kampus Indonesia).
Pak Harto dulu juga mau dianugerahi Universitas Indonesia (UI). Kepada rektor UI saat itu, Prof Mahar Mardjono, Pak Harto mengatakan belum tepat waktunya. Jokowi kabarnya juga menolak beberapa kampus yang ingin memberinya gelar doktor H.C.
BACA JUGA:Sidang Dugaan Ijazah Palsu Jokowi Berlanjut, Dokter Tifa Hadir Siapkan 37 Halaman Nota Perlawanan
BACA JUGA:Roy Suryo Ditangkap Terkait Kasus Ijazah Jokowi, Kuasa Hukum: Ada Intervensi Politik!
Kalau dari sudut kepentingan politik, menerima gelar adat lebih masuk. Saat penganugerahan gelar adat, Jokowi tak perlu repot-repot orasi ilmiah. Tapi, mendapat massa yang riil. Rakyat daerah tersebut akan selalu mengingatnya. Elite bangsawannya bisa menjadi mata rantai politiknya.
Jurus pendekatan adat itu lebih efektif. Lihat, di Lampung dan Kupang, kedatangan Jokowi dengan bendera Partai Solidaritas Indonesia (PSI) selalu meriah. Di prosesi pemberian gelar, berbaur para politikus PSI dan tokoh adat dan masyarakat setempat.
Gelar untuk Jokowi juga memunculkan kritik publik. Makna politis dianggap lebih besar daripada suasana sakralitas. Apakah pemberian gelar sudah sesuai prosesi adat, itu urusan lain. Hal seperti itu akan diungkap oleh waktu.
Saya melihat, Jokowi menyadari harus bekerja keras di panggung politik. Tak bisa duduk manis di Solo sebagai warga biasa. Harus berkeringat. Harus blusukan lagi. Sebab, keinginan politiknya belum tentu sesuai dengan realitas.
BACA JUGA:Jokowi Mau Keliling Daerah, PDIP: Barangkali Mau Netralisir Polemik Ijazah Palsu
BACA JUGA:Jumhur Hidayat, Musuh Jokowi yang Dirangkul Prabowo
Salah satu keinginan politik Jokowi adalah duet Prabowo-Gibran dua periode. Sudah tak malu-malu lagi Jokowi mengutarakan hal itu. Beberapa kali diungkapkan secara terbuka. Sekaligus mengingatkan Prabowo.
Apakah Prabowo akan tetap menggandeng Gibran? Pilpres masih jauh. Yang terlihat sekarang, Presiden Prabowo dan Gibran sebagai wapres tidak makin mesra. Belum pernah Prabowo memberikan tugas penting kepada Gibran. Berita yang muncul, malah Gibran duduk di deretan menteri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: