Fabio Quartararo Kena Penalti 16 Detik di Silverstone Gara-Gara Kelalaian Sepele Ini
TAPS (Tyre Air Pressure Sensors), perangkat keras pengukur tekanan ban yang terpasang di peleg motor MotoGP--Twitter tmcblog @motoupdate
HARIAN DISWAY - Sebuah kelalaian sepele di dalam garasi berujung petaka besar di atas lintasan. Nasib sial menghantam Fabio Quartararo pada GP Silverstone setelah sanksi penalti 16 detik mencabut peluangnya membawa pulang poin berharga.
Bukan karena kegagalan mesin atau manuver berbahaya, melainkan akibat keteledoran teknis tim Yamaha yang lupa mendaftarkan ID sensor tekanan ban ke dalam sistem Race Control.
Di balik ketatnya regulasi zero tolerance FIM dan rumitnya integrasi teknologi TPMS, insiden ini menjadi tamparan keras bagi pabrikan Iwata tentang betapa krusialnya ketelitian detail di era modern MotoGP.
Pengukuran tekanan ban selama balapan Grand Prix MotoGP kerap menjadi momok bagi para pembalap. Masalah utamanya terletak pada disparitas hasil pengukuran antara data internal tim dan pencatatan resmi milik Race Control.
Secara teknis, terdapat dua sistem yang saling terintegrasi dalam pengukuran ini:
- TAPS (Tyre Air Pressure Sensors): Perangkat keras berupa sensor yang tertanam langsung pada pelek roda.
- TPMS (Tyre Pressure Monitoring System): Keseluruhan sistem elektronik dan telemetri yang mengumpulkan, membaca, serta mengirimkan data dari sensor ke tim dan pengawas balapan.
BACA JUGA:Hasil Sprint Race MotoGP Inggris 2026, Jorge Martin Pimpin Sapu Bersih Aprilia
BACA JUGA:Jorge Martin Amankan Pole Position GP Inggris 2026, Pertajam Rekor Silverstone
Sistem TPMS merekam data secara real-time setiap detik. Regulasi mengharuskan pembalap menjaga tekanan ban di atas batas minimum:
- Ban Slick Depan: Sekitar 1,80 bar (26,1 psi).
- Ban Slick Belakang: Sekitar 1,68 bar (24,4 psi). (Batas pasti dapat bervariasi bergantung pada karakteristik sirkuit).
Untuk balapan utama Grand Prix, tekanan ban rata-rata wajib memenuhi batas minimum setidaknya sepanjang 60% durasi lap. Sementara pada sesi Sprint Race, batas ambang minimumnya berada di angka 30%.

Fabio Quartararo (20), saat beraksi di Grand Prix MotoGP Silverstone 2026--Twitter Going Behind The Visor @GBehindTheVisot
Kegagalan memenuhi kriteria ini berujung pada penalti waktu pascabalapan: 16 detik untuk Grand Prix dan 8 detik untuk Sprint.
Pada praktiknya, sistem kontrol TPMS milik Dorna beroperasi terpisah dari sistem peringatan internal tim. Data Dorna tidak dapat diakses oleh tim maupun pembalap saat sesi berlangsung.
Setiap tim mengatur parameter masing-masing untuk mengirimkan peringatan ke dashboard pembalap. Faktor inilah yang kerap memicu perbedaan data telemetri.
BACA JUGA:Hasil Latihan MotoGP Inggris 2026, Marco Bezzecchi Lompati Rasa Sakit Demi Rekor
BACA JUGA:Marc Marquez Finis Ketujuh di GP Inggris 2026, Apa yang Salah?
Kelalaian Fatal Garasi Yamaha
Kasus penalti 16 detik yang menimpa Fabio Quartararo pada GP Silverstone murni dipicu oleh human error teknisi tim Monster Energy Yamaha. Tim terlewat melakukan kalibrasi TAPS ke sistem TPMS milik Race Control sebelum balapan dimulai.
Usai balapan, motor Yamaha YZR-M1 bernomor 20 milik Quartararo dipanggil ke area Technical Control untuk inspeksi rutin. Dalam pemeriksaan tersebut, tim teknis Dorna menemukan bahwa onboard receiver pada motor belum dikonfigurasi dengan benar untuk menerima sinyal dari sensor tekanan ban depan.
"ID sensor tekanan ban tidak terdaftar di dalam database receiver onboard. Hal ini mengakibatkan tidak adanya data aktual tekanan ban depan yang terekam sepanjang balapan," tulis rilis resmi FIM MotoGP Stewards.
Regulasi MotoGP mewajibkan penggunaan sensor TAPS pada kedua roda beserta perekaman data secara terus-menerus (real-time logging) sepanjang balapan di kelas utama.
Merujuk pada Penalty Protocol MotoGP Tyre Pressure, ketidaktersediaan data telemetri yang valid dianggap setara dengan pelanggaran batas tekanan ban minimum.
Alhasil, Stewards menjatuhkan penalti waktu standar sebesar 16 detik pada total waktu balapan Quartararo, yang merosotkannya ke posisi P16, pada Grand Prix hari Minggu kemarin.
Catatan Evaluasi Tim Pabrikan Iwata
Insiden teknis di garasi pabrikan asal Iwata ini memberikan beberapa pelajaran krusial:
- Pentingnya Prosedur Software Setup: Di era MotoGP modern yang sangat bergantung pada telemetri, kelalaian mendaftarkan ID sensor pada ECU/penerima sinyal adalah kesalahan prosedural yang fatal. Sistem gagal membaca data meski sensor fisik terpasang sempurna.
- Ketegasan Regulasi Teknis: Dorna dan FIM menerapkan prinsip zero tolerance. Data log yang kosong atau rusak akibat kesalahan konfigurasi langsung dijatuhi sanksi setara pelanggaran regulasi ban (non-compliant).
- Hilangnya Poin Berharga: Silverstone yang secara historis ramah bagi karakter YZR-M1 justru berujung kelam. Quartararo harus pulang tanpa poin akibat penalti tersebut.
Pelajaran mahal ini menjadi bahan evaluasi mendalam bagi jajaran teknis Yamaha, agar tidak mengulangi kesalahan serupa pada seri-seri berikutnya.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: