Luka Bromo dan Seni Menunggu Alam Pulih

Luka Bromo dan Seni Menunggu Alam Pulih

ILUSTRASI Luka Bromo dan Seni Menunggu Alam Pulih.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

KEBAKARAN lahan di kawasan Gunung Bromo bukan sekadar peristiwa ketika padang sabana berubah menjadi hamparan hitam. Api memang padam, asap menghilang, dan wisatawan perlahan kembali berkunjung. 

Namun, di balik pemandangan yang tampak mulai pulih, tersimpan persoalan ekologis yang jauh lebih panjang: bagaimana tanah mengembalikan kesuburannya, bagaimana tumbuhan tumbuh kembali, bagaimana satwa menemukan habitatnya, serta bagaimana manusia mencegah kerusakan serupa terjadi lagi.

Kebakaran yang terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada 2023 menjadi pengingat bahwa ekosistem pegunungan memiliki daya tahan, tetapi tidak berarti tak memiliki batas. 

Api yang dipicu penggunaan suar dalam kegiatan foto pra-pernikahan membakar ratusan hingga hampir 1.000 hektare kawasan, dengan laporan pemerintah menyebut area terdampak mencapai sekitar 989 hektare. 

BACA JUGA:Penyebab Kebakaran Gunung Bromo Diduga Kelalaian Manusia, Luas Area Terdampak Capai 742 Hektare

BACA JUGA:Kebakaran Hutan Bromo Meluas ke 742 Hektare: Operasi Water Bombing Digenjot, 24 Ribu Liter Air Disiramkan

Pemerintah kemudian menyiapkan langkah rehabilitasi dan pemulihan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi seperti IPB University, UGM, dan Universitas Brawijaya. 

Bromo memiliki karakter lingkungan yang khas. Kawasan itu bukan hanya hutan, melainkan juga sabana, padang rumput, lautan pasir, lereng pegunungan, serta habitat berbagai jenis tumbuhan dan satwa. 

Setiap bagian memiliki kemampuan pulih yang berbeda. Padang rumput mungkin terlihat cepat menghijau setelah hujan, tetapi pohon-pohon asli seperti cemara gunung, kesek, tutup, dan pasang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali tumbuh kuat. 

Karena itu, pemulihan Bromo tidak dapat dilakukan dengan satu cara yang sama untuk seluruh wilayah.

Perbaikan harus dimulai dengan memahami tingkat kerusakan. Tidak semua lahan yang terbakar mengalami kerusakan dalam tingkat yang sama. Ada bagian yang hanya mengalami kebakaran permukaan, terutama pada rerumputan kering. 

BACA JUGA:Kebakaran Bromo Capai 520 Hektar, Pakar IPB Bongkar Kesalahan Fatal Strategi Pemadaman

BACA JUGA:Selain di Bromo, Karhutla Juga Terjadi di Ponorogo dan Trenggalek

Ada pula wilayah yang terbakar lebih parah sehingga menghilangkan semak, pohon muda, serasah, dan sebagian organisme tanah. Perbedaan tingkat kerusakan itu penting karena menentukan tindakan yang diperlukan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: