Luka Bromo dan Seni Menunggu Alam Pulih
ILUSTRASI Luka Bromo dan Seni Menunggu Alam Pulih.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Pada wilayah sabana yang terbakar ringan, alam biasanya memiliki kemampuan untuk memulai proses pemulihan sendiri. Akar rumput yang masih berada di dalam tanah dapat bertunas kembali ketika air tersedia. Benih yang tersimpan di dalam tanah juga dapat berkecambah setelah memperoleh kelembapan dan cahaya.
Dalam situasi seperti itu, terlalu banyak campur tangan manusia justru dapat mengganggu proses alami. Lahan yang baru saja terbakar sebaiknya tidak langsung diinjak-injak, dibajak, atau ditanami secara seragam tanpa kajian.
Namun, membiarkan alam bekerja tidak berarti manusia boleh pasif. Pemulihan alami tetap membutuhkan perlindungan. Kawasan yang sedang mengalami regenerasi harus dijaga dari kebakaran ulang, penggembalaan berlebihan, kendaraan wisata, dan aktivitas manusia yang merusak.
BACA JUGA:Kebakaran Hutan Bromo Hanguskan 176 Hektare Lahan, Pemadaman Terkendala Angin dan Medan Terjal
Patroli, pemantauan titik api, pembatasan akses pada area tertentu, serta pengaturan jalur wisata menjadi bagian penting dari perbaikan. KLHK sendiri menyebut pemulihan dapat dilakukan melalui mekanisme alam, rehabilitasi, dan restorasi, dengan pengamanan serta pemantauan sebagai bagian dari prosesnya.
Perbaikan juga harus menyentuh kondisi tanah. Kebakaran dapat menghilangkan lapisan serasah yang selama ini berfungsi menyimpan air, melindungi permukaan tanah, dan menyediakan bahan organik.
Ketika hujan turun, tanah yang kehilangan pelindung lebih mudah mengalami erosi. Air hujan dapat mengalir deras membawa abu dan partikel tanah ke tempat yang lebih rendah. Jika terjadi berulang, lapisan tanah subur akan menipis dan kemampuan lahan untuk mendukung pertumbuhan tanaman ikut menurun.
Pada lereng yang rawan erosi, tindakan konservasi tanah dan air perlu dipertimbangkan. Pemasangan penghambat aliran permukaan, penutupan tanah dengan bahan organik, serta penanaman vegetasi penutup dapat membantu menjaga kelembapan dan mengurangi kehilangan tanah.
BACA JUGA:Gunung Bromo Ditutup Total Mulai 8 Agustus 2026 Akibat Kebakaran, 5 Jalur Wisata Diblokir
BACA JUGA:Akses Wisata Bromo Ditutup Akibat Kebakaran Hutan 60 Hektare, Helikopter Bombing Dikerahkan
Tindakan tersebut harus disesuaikan dengan kondisi Bromo yang memiliki bentang alam sensitif. Teknik yang digunakan di wilayah hutan lembap tidak selalu cocok diterapkan di sabana atau lautan pasir.
Tahap berikutnya adalah pemulihan. Pemulihan tidak semata-mata berarti membuat kawasan kembali hijau. Warna hijau memang menjadi tanda awal yang menggembirakan, tetapi belum tentu menunjukkan bahwa ekosistem telah kembali berfungsi.
Padang rumput yang cepat tumbuh belum tentu memiliki komposisi jenis yang sama dengan sebelum kebakaran. Demikian pula, lahan yang ditanami pohon belum tentu langsung menyediakan tempat berlindung dan sumber makanan bagi satwa.
Pemulihan harus dilihat dari beberapa aspek sekaligus. Vegetasi perlu tumbuh, tanah perlu kembali stabil, keanekaragaman hayati perlu dipantau, dan hubungan antara tumbuhan, satwa, air, serta masyarakat harus mulai berfungsi kembali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: