Luka Bromo dan Seni Menunggu Alam Pulih

Luka Bromo dan Seni Menunggu Alam Pulih

ILUSTRASI Luka Bromo dan Seni Menunggu Alam Pulih.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Perbedaan waktu pemulihan juga harus dipahami publik. Sabana dapat menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan kembali dalam waktu relatif singkat setelah hujan, sedangkan pohon-pohon asli membutuhkan waktu lebih lama. 

BB TNBTS memperkirakan pemulihan pohon tertentu dapat memerlukan sekitar 3 sampai 5 tahun, sementara mekanisme pemulihan yang diterapkan mencakup proses alami, rehabilitasi, dan restorasi. 

Artinya, masyarakat tidak boleh menilai keberhasilan hanya dari kondisi kawasan beberapa minggu atau beberapa bulan setelah kebakaran. 

Pada akhirnya, kebakaran Bromo harus menjadi pelajaran tentang cara manusia memperlakukan alam. Perbaikan berarti memperbaiki kondisi tanah, tata kelola, pengawasan, dan perilaku manusia. Pemulihan berarti mengembalikan fungsi ekosistem melalui perlindungan, rehabilitasi, dan restorasi yang terukur. 

Sementara itu, suksesi alami mengingatkan bahwa alam memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri, tetapi kemampuan tersebut membutuhkan waktu dan ruang.

Bromo tidak memerlukan tindakan yang terburu-buru hanya demi terlihat segera hijau. Yang dibutuhkan adalah kesabaran, ilmu pengetahuan, pengawasan, dan penghormatan terhadap proses ekologis. 

Tugas manusia bukan menggantikan alam, melainkan membantu ketika alam mengalami kerusakan berat dan memastikan tidak ada gangguan baru yang menghambat pemulihan. 

Dengan cara itulah kawasan Bromo dapat kembali menjadi ruang hidup bagi tumbuhan, satwa, masyarakat, dan generasi mendatang. (*)

*) Hery Purnobasuki adalah guru besar FST Universitas Airlangga dan ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: