Deepfake dan AI: Ketika Video Tidak Lagi Bisa Dipercaya
Dilema Deepfake: Yang Palsu Tampak Nyata, Yang Nyata Dituduh Palsu.-Nano Banana 2-Nano Banana 2
Kelima, jangan buru-buru membagikan info tersebut. Ini yang paling sulit karena jempol seringkali lebih cepat daripada pikiran.
Bagi dunia pendidikan, khususnya Teknik Informatika, fenomena ini menjadi peringatan yang sangat penting. Mahasiswa tidak cukup hanya belajar membuat teknologi. Tetapi, mereka juga harus memahami akibat sosial dari teknologi yang mereka bangun.
Kecakapan teknis harus berjalan bersama etika, keamanan informasi, perlindungan data pribadi, dan tanggung jawab profesional. Programmer bukan hanya orang yang bisa menulis kode. Pengembang AI bukan hanya orang yang mampu membuat model bekerja.
Keduanya juga harus bertanya: teknologi ini akan digunakan untuk apa, oleh siapa, dan siapa yang mungkin dirugikan? AI tidak perlu ditakuti. Tetapi AI juga tidak boleh diterima tanpa sikap kritis.
Di masa lalu, kita diajarkan jangan percaya semua yang kita baca di internet. Sekarang nasihat itu harus diperbarui. Jangan percaya semua yang kita lihat. Jangan percaya semua yang kita dengar. Pertama, periksa. Kedua, bandingkan. Dan ketiga verifikasi.
Sebab di era deepfake, pertanyaan terpenting bukan lagi pada Apakah videonya ada? Melainkan pertanyaannya justru pada Apakah kejadian itu benar-benar pernah terjadi?
*) Ketua Program Studi Teknik Informatika Universitas 45 Surabaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: