Saat Oposisi Bertukar Kursi
ILUSTRASI Saat Oposisi Bertukar Kursi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
MASUKNYA Rocky Gerung (RG) ke lingkungan istana bukan sekadar perpindahan tempat duduk. Ia adalah perpindahan posisi psikologis: dari orang yang berteriak di luar pagar kekuasaan menjadi bagian dari organisasi yang selama ini menjadi objek kritiknya.
Sebagai anggota Wantimpres, ia menegaskan bahwa perpindahan itu tidak mengubah sikap dan pandangannya. Baginya, berada di dalam justru memungkinkan kritik disampaikan secara langsung kepada pengambil keputusan.
Secara normatif, argumentasi itu terdengar masuk akal. Bahkan, sebuah organisasi pemerintahan yang sehat membutuhkan orang yang tidak selalu mengatakan ”ya”.
Persoalannya bukan apakah seorang kritikus boleh masuk ke dalam pemerintahan. Persoalannya jauh lebih serius: apakah setelah masuk ia masih memiliki kebebasan psikologis, sosial, dan institusional untuk mengatakan ”tidak”?
Di sinilah perilaku organisasi memberikan perspektif yang berbeda.
BACA JUGA:Merawat Demokrasi, Menghidupkan Oposisi
BACA JUGA:Pengkhianat di Tubuh Rezim dan Oposisi, Siapakah Mereka?
Robert Cialdini, dalam karyanya, Influence: The Psychology of Persuasion, menjelaskan prinsip reciprocity: manusia memiliki kecenderungan membalas pemberian, kepercayaan, kesempatan, atau perlakuan positif yang diterimanya.
Dalam hubungan sosial biasa, mekanisme itu merupakan perekat interaksi.
Namun, di dalam organisasi kekuasaan, reciprocity dapat menjadi jauh lebih kompleks. Ketika seseorang memperoleh akses, kepercayaan, posisi, atau kesempatan untuk berada di episentrum kekuasaan, secara psikologis dapat muncul dorongan untuk membalas kepercayaan tersebut melalui loyalitas, dukungan, atau setidaknya sikap yang lebih akomodatif.
Ini bukan tuduhan bahwa seseorang pasti berubah karena jabatan. Justru di sinilah pentingnya membedakan antara motif dengan mekanisme. Seseorang dapat masuk organisasi dengan motif tetap independen, tetapi struktur hubungan baru secara perlahan mengubah cara ia memandang persoalan.
BACA JUGA:Rocky Gerung, Keping Terakhir di Istana
BACA JUGA:Rocky Gerung ”Hujjatul Islam”
Semula ia melihat pemerintah sebagai ”mereka”. Setelah berada di dalam, pemerintah berubah menjadi ”kami”. Perubahan kata ganti itu sederhana, tetapi konsekuensi psikologisnya besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: