Saat Oposisi Bertukar Kursi

Saat Oposisi Bertukar Kursi

ILUSTRASI Saat Oposisi Bertukar Kursi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

BACA JUGA:Rocky Gerung Punya Dua Pernyataan Panas

BACA JUGA:Megawati Tegaskan PDI Perjuangan Bukan Oposisi atau Koalisi

Pemerintahan tidak harus hidup dalam atmosfer permusuhan dengan seluruh pengkritiknya. Namun, di sisi lain, jika seluruh oposisi dirangkul hanya agar tidak lagi berada di luar, yang terjadi bukan pluralisme, melainkan netralisasi oposisi.

Itulah yang dalam literatur politik-organisasi dikenal sebagai co-optation. Philip Selznick menunjukkan bahwa organisasi atau kelompok elite dapat merangkul unsur-unsur yang berpotensi berseberangan dengan mereka ke dalam struktur kekuasaan untuk memperoleh legitimasi dan stabilitas. 

Dengan begitu, yang sebelumnya menentang akhirnya ikut memikul tanggung jawab atas sistem yang dahulu dikritiknya.

Co-optation tidak selalu buruk. Dalam pemerintahan, membawa suara kritis ke meja pengambilan keputusan dapat memperbaiki kualitas kebijakan. Namun, bahayanya muncul apabila keberagaman hanya menjadi ”dekorasi”. Itulah konsekuensi terbesar dari politik ”merangkul semua”. 

Jika dilakukan dengan desain institusional yang sehat, ia menghasilkan constructive dissent: perbedaan pendapat yang justru memperbaiki keputusan. Tetapi, jika dilakukan untuk mereduksi sumber kritik dari luar, ia menghasilkan consensus without contestation, 'kesepakatan tanpa perdebatan yang berarti'.

Oleh karena itu, ukuran independensi seorang RG tidak seharusnya ditentukan oleh keputusan masuk atau tidak masuk istana. Ukurannya justru sederhana: apakah ia berani berkata ”tidak” ketika semua anggota mengatakan ”ya”? Apakah ia mampu mempertahankan argumen ketika argumen itu tidak menyenangkan kekuasaan?

Yang paling penting, apakah publik masih dapat mengetahui bahwa ia pernah berbeda pendapat ketika perbedaan itu terjadi di ruang tertutup? Sebab, seorang pengkritik sejati tidak kehilangan independensinya ketika masuk kekuasaan. 

Ia kehilangan independensi ketika akses kepada kekuasaan menjadi lebih penting daripada keberanian untuk mengoreksi kekuasaan.

Masuk istana, karena itu, bukan akhir dari radical break. Justru di sanalah ujian sesungguhnya dimulai. Di luar istana, menjadi kritis relatif mudah karena tidak banyak yang dipertaruhkan. Di dalam istana, kritik menjadi mahal. 

Dan, justru ketika kritik mulai mahal, publik ingin mengetahui apakah seorang kritikus sejati masih mempertahankan prinsip atau telah berubah hanya karena berubah formasi kursi? (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: