Saat Oposisi Bertukar Kursi
ILUSTRASI Saat Oposisi Bertukar Kursi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Teori Caldiani lain yang juga menarik: present bias. Seseorang cenderung memberikan bobot lebih besar terhadap manfaat yang diterima sekarang daripada konsekuensi yang muncul di masa depan. Manfaat ”sekarang” tidak selalu berupa uang.
Ia dapat berupa akses informasi, kesempatan memengaruhi kebijakan, status, legitimasi, atau kedekatan dengan pusat kekuasaan. Sebab, gagasannya dapat didengar langsung. Sementara itu, ongkos yang mungkin harus dibayar adalah berkurangnya persepsi independensi di mata publik secara subtil.
Di sinilah dilematisnya, menolak jabatan berarti mempertahankan jarak dan independensi. Menerima jabatan berarti memperoleh akses untuk memengaruhi keputusan dari dalam. Tidak ada pilihan yang sepenuhnya bebas biaya.
BACA JUGA:Rocky Gerung Ternyata Kurang Sakti
BACA JUGA:Rocky Gerung Sakti
Karena itu, terlalu naif jika perubahan posisi seseorang langsung ditafsirkan sebagai ”pengkhianatan terhadap kritik”. Tetapi, sama sederhananya jika kita menganggap masuknya seorang oposisi ke dalam pemerintahan otomatis merupakan bukti bahwa demokrasi makin sehat. Boleh jadi kritik dibawa masuk ke sistem, tetapi daya gigitnya berubah esensi.
Dalam teori organisasi, salah satu bahayanya adalah organizational silence. Morrison dan Milliken menunjukkan bahwa organisasi dapat menciptakan situasi ketika orang sebenarnya memiliki keberatan, tetapi memilih tidak menyampaikannya karena mempertimbangkan konsekuensi sosial maupun hubungan dengan atasan.
Bayangkan, seorang anggota Wantimpres menganggap sebuah kebijakan keliru. Secara formal, ia bebas menyampaikan keberatan. Namun, ia mengetahui bahwa keputusan tersebut merupakan prioritas presiden, dan kolega lain mendukungnya, sehingga kritik keras dapat mengganggu hubungan kerja.
Tidak diperlukan perintah untuk diam. Cukup ada atmosfer yang membuat seseorang berpikir, ”mungkin kritik ini lebih baik disampaikan secara internal.”
BACA JUGA:Kasus Rocky Gerung: Jokowi Dihina dan Dipuji
BACA JUGA:Kasus Rocky Gerung Dibanding-bandingke
Pada tahap tertentu, kritik publik yang dahulu tajam berubah menjadi kritik tertutup. Publik akhirnya tidak tahu apakah suara yang muncul di ruang internal sesungguhnya sama kerasnya dengan suara ketika seseorang masih berada di luar.
Perspektif lainnya adalah groupthink. Irving Janis menunjukkan bagaimana kelompok yang terlalu mengejar kompromi dapat meredam keberagaman dan mereduksi kritik alternatif.
Namun, terdapat argumen lain yang memperdebatkan dan memperhalus teori groupthink, tetapi persoalan dasarnya tetap relevan: organisasi yang terlalu menghargai keseragaman dapat kehilangan kemampuan untuk menguji keputusannya secara serius.
Karena itu, strategi merangkul semua kelompok politik mempunyai dua wajah. Di satu sisi, inklusivitas dapat mengurangi konflik, memperluas basis legitimasi, dan membuka saluran komunikasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: