Sepatu Murah: Inovasi atau Ancaman bagi Pelaku Usaha?
Di balik sepatu murah ada nasib UMKM; inovasi negara harus rangkul pengrajin lokal agar tumbuh bersama.-Nano Banana 2-Nano Banana 2
Di balik sepasang sepatu ada banyak kehidupan. Bagi kita, sepatu sering hanya terlihat sebagai barang yang dipakai sehari-hari untuk melindungi kaki. Kita melihat harganya, memilih model yang kita suka, mencari ukuran yang pas, lalu membelinya.
Sebelum sampai ke tangan, ada banyak orang yang terlibat dalam proses pembuatannya. Ada tangan yang membuat pola, memotong bahan, menjahit, memasang sol, mengelem, mengemas, hingga mengirimkannya kepada pembeli. Ada pedagang yang berharap mendapatkan sedikit keuntungan untuk membawa pulang uang belanja keluarganya.
Bagi perusahaan besar, penurunan penjualan hanya menjadi angka dalam laporan. Bagi UMKM, penurunan pesanan bisa berarti sesuatu yang jauh lebih manusiawi. Gaji pekerja bisa terlambat, bahan baku tidak bisa dibeli, mesin berhenti, dan pada akhirnya berdampak pada ekonomi keluarga. Inilah sisi lain dari industri alas kaki yang terlihat ketika kita membicarakan harga sepatu.
Industri alas kaki Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang besar. Kementerian Perindustrian mencatat industri alas kaki pada Januari–September 2025, nilai investasi industri alas kaki tercatat lebih dari Rp18 triliun. Industri kulit dan alas kaki juga tumbuh 8,31 persen secara tahunan pada triwulan II 2025.
Data BPS menunjukkan sektor industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki menyumbang 0,73 persen dari proporsi tenaga kerja sektor manufaktur pada 2025. Perkembangannya pada tahun 2026 juga masih terbuka. Pemerintah melihat industri alas kaki sebagai salah satu industri padat karya yang perlu terus dikembangkan. Industri ini tidak hanya memiliki pasar domestik, tetapi juga peluang untuk memperluas pasar ekspor dan masuk lebih dalam ke rantai pasok global.
BACA JUGA:Dari Merdeka Menuju Maslahat: Mengisi Kemerdekaan dalam Paradigma Maqashid Syariah
BACA JUGA:BI Tahan Suku Bunga Acuan 5,75 Persen, Sudah 3 Bulan Berturut-turut
Di tengah potensi tersebut, tantangan yang dihadapi pelaku usaha juga semakin besar. Ketika sebuah lembaga negara mengembangkan sepatu berbahan karet produksi lokal. Dengan harga berada di kisaran Rp70-75 ribuan, sementara model lainnya di atas Rp100 ribu. Produk tersebut diarahkan untuk membantu kebutuhan Sekolah Rakyat.
Jika negara mampu menghadirkan sepatu dengan harga terjangkau, bagaimana nasib pelaku usaha yang selama ini hidup dari membuat sepatu? Pertanyaan itu bukan untuk menolak inovasi. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana inovasi tersebut kemudian hadir di tengah masyarakat tanpa meninggalkan mereka yang selama ini sudah berjuang di sektor yang sama.
Sepatu murah memang penting. Tidak semua masyarakat memiliki kemampuan membeli produk dengan harga tinggi. Bagi keluarga tertentu, sepatu dengan harga terjangkau sangat membantu, terutama ketika harus memenuhi kebutuhan sekolah anak.
UMKM sedang berusaha mengikuti perubahan pasar. Harga bahan baku naik, biaya produksi meningkat, selera konsumen bergerak cepat, pemasaran bergeser ke digital, dan masuknya produk impor murah dengan pilihan model yang sangat beragam.
Dalam beberapa menit, konsumen dengan mudah membandingkan produk mulai dari harga, desain, bahan, dan ulasan pembeli dari layar ponsel. Produk yang hari ini sedang diminati bisa dengan cepat tergantikan oleh model lain.
Pelaku UMKM lokal tentu tidak tinggal diam. Mereka berusaha mengikuti tren, memasarkan produk melalui marketplace, membuat konten yang manarik, dan memperbaiki kemasan agar produknya lebih dikenal konsumen.
BACA JUGA:Masa, Tidak Tahu?
BACA JUGA:Deepfake dan AI: Ketika Video Tidak Lagi Bisa Dipercaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: