Rehabilitasi Pascabencana di NTT

Rehabilitasi Pascabencana di NTT

ILUSTRASI Rehabilitasi Pascabencana di NTT.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bersama instansi terkait tentu harus memprioritaskan pembukaan jalan nasional dan jalur evakuasi. Hal tersebut sangat penting untuk memastikan mobilitas distribusi bantuan dan logistik tidak terhambat. 

BACA JUGA:Presiden Prabowo Perintahkan Percepatan Penanganan Gempa NTT, Jajaran Menteri Turun Langsung

BACA JUGA:Presiden Prabowo Kirim 4.925 Paket Sembako Tahap Awal untuk Korban Gempa NTT

Di sektor telekomunikasi, kementerian terkait juga secara intensif perlu memantau perbaikan jaringan base transceiver station (BTS) yang lumpuh akibat pemadaman listrik. Kehadiran layanan dasar itu merupakan urat nadi yang membuat kehidupan masyarakat di daerah bencana bisa kembali bangkit.

Rehabilitasi Psikologis dan Ekonomi

Salah satu aspek penting dalam penanganan pascabencana adalah pemulihan kondisi mental dan kebangkitan kembali aktivitas ekonomi masyarakat. Di luar kerusakan fisik, pemulihan emosional atau trauma dari para penyintas perlu mendapatkan perhatian, terutama anak-anak dan perempuan. 

Tinggal di tenda pengungsian dalam waktu yang tidak pasti tentu memberikan tekanan psikologis yang berat. Sementara itu, rehabilitasi aspek ekonomi masyarakat juga harus mendapatkan perhatian yang serius.

Pihak PT dan berbagai elemen kelompok masyarakat sipil secara konsisten perlu menghadirkan program dukungan psikososial dan trauma healing di titik-titik pengungsian. 

Aktivitas kelompok, permainan edukatif, hingga perpustakaan keliling yang interaktif terbukti sangat efektif untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari trauma dan menjaga semangat belajar mereka. 

Pemulihan jiwa itu adalah fondasi agar masyarakat NTT bisa bangkit secara mental dan kembali menatap masa depan dengan penuh harapan.

Namun, kita juga menyadari bahwa rehabilitasi pascabencana tidak akan lengkap tanpa adanya pemulihan roda perekonomian warga. Banyak masyarakat NTT yang bergantung pada sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan yang kini porak-poranda karena gempa. 

Saat bencana merusak lahan irigasi, bendungan, atau meluluhlantakkan kapal nelayan, mata pencaharian mereka seketika hilang. Untuk itu, pemerintah harus memberikan stimulus ekonomi. Misalnya, bantuan modal usaha, penyediaan benih, atau alat tangkap baru bagi nelayan. 

Upaya rehabilitasi pascabencana di NTT tidak sekadar memperbaiki jalan yang rusak atau membangun lagi bangunan publik dan rumah yang roboh. 

Itu adalah proses panjang tentang bagaimana kita merajut kembali harapan, menguatkan solidaritas kemanusiaan, dan membangun lagi NTT menjadi wilayah yang jauh lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan bencana alam di masa depan. Bagaimana pendapat Anda? (*) 

*) Bagong Suyanto adalah guru besar FISIP dan koordinator Unit Rehabilitasi Satgas Tanggap Bencana Universitas Airlangga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: