Horor Susanah si Pengupas Bawang

Horor Susanah si Pengupas Bawang

ILUSTRASI Horor Susanah si Pengupas Bawang.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Ekonom Jeffrey Sachs dalam The End of Poverty menekankan pentingnya intervensi berbasis data presisi untuk memutus rantai kemiskinan (poverty trap). Ketika pembuat kebijakan hidup dalam gelembung data yang salah, bantuan sosial dan restrukturisasi ekonomi tidak akan tepat sasaran. 

Kesenjangan terjadi bukan karena rakyat malas, melainkan karena kegagalan struktural pemerintah dalam memahami pemetaan garis kemiskinan yang sebenarnya.

Filsuf dan ekonom Amartya Sen menegaskan bahwa pembangunan seharusnya diukur dari perluasan kapabilitas dasar manusia untuk hidup layak, bebas dari kerentanan, dan memiliki kebebasan memilih. 

Buruh pengupas bawang seperti ibu Susanah tidak membutuhkan glorifikasi berbasis angka palsu di podium kepresidenan. Ia membutuhkan pengakuan atas keterbatasan kapabilitas riil akibat upah murah, minimnya proteksi kesehatan, dan ketiadaan jaminan sosial yang berkelanjutan.

Horor Suzzanna di layar perak hanyalah rekayasa seni pertunjukan yang usai saat lampu bioskop dinyalakan. Namun, Susanah, horor pengupas bawang berupah Rp700 ribu per kilogram, adalah bentuk distorsi birokrasi. 

Jika blunder data terus berulang –dan narasi kesejahteraan rakyat hanya didasarkan pada laporan manis tanpa verifikasi empiris– pembangunan nasional sedang berjalan di atas fondasi pasir yang rapuh.

Negara tidak boleh memimpin dengan fabel ekonomi. Pemenuhan keadilan sosial menuntut kejujuran data, pengakuan atas fakta, dan pembongkaran struktur eksploitasi kerja. 

Sudah saatnya pemerintah berhenti berhalusinasi dan mulai mendengarkan jeritan para pengupas bawang di pasar-pasar tradisional. 

Mereka meneteskan air mata bukan hanya karena perihnya aroma bawang. Mereka menangis karena beratnya menanggung beban hidup di tengah impitan ekonomi dan janji-janji yang jauh dari kenyataan. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: