Reshuffle dan Kepercayaan Publik
ILUSTRASI Reshuffle dan Kepercayaan Publik.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Reshuffle kabinet selalu menarik perhatian karena menyangkut pergantian orang penting dan posisinya. Namun, bagi publik, pertanyaan yang lebih penting sebenarnya bukan siapa yang mendapat kursi, melainkan apakah perubahan itu membuat kinerja pemerintahan bisa lebih baik dan lebih layak dipercaya.
Reshuffle Kabinet Merah Putih pada 1 Oktober 2026 bukan sekadar sebagai pergantian pejabat, tetapi juga merupakan pesan politik tentang evaluasi, koreksi, dan arah pemerintahan ke depan.
Perubahan kali ini menyentuh sejumlah posisi penting. Bahlil Lahadalia memperoleh tanggung jawab lebih besar, Sugiono masuk sebagai menteri koordinator PMK, Dudung Abdurachman menjadi menko Polkam, Arrmanatha Nasir dipercaya sebagai menteri luar negeri, Muhammad Sarmuji menjadi menteri perindustrian, sedangkan Listyo Sigit Prabowo tidak lagi menjadi kepala Polri, tetapi tetap berada dekat dengan presiden sebagai kepala staf kepresidenan.
Reshuffle ketujuh menjelang dua tahun menimbulkan pertanyaan, apakah pemerintah sedang menunjukkan kemampuan beradaptasi atau justru masih mencari konfigurasi terbaik untuk menjalankan program-programnya?
BACA JUGA:Reshuffle Ketujuh Kabinet Merah Putih: Golkar Menguat, ‘Geng Solo’ Terkikis
BACA JUGA:Reshuffle Kabinet Merah Putih
Menata Kekuasaan, Mengoreksi Pemerintahan
Dari sisi politik, reshuffle menunjukkan bahwa Prabowo makin menyusun kabinet yang sesuai dengan agenda dan gaya pemerintahannya sendiri. Namun, perubahan itu tidak mudah dibaca sebagai sekadar pergantian antara ”orang lama” dan ”orang baru”.
Kasus Listyo Sigit memperlihatkan bahwa yang terjadi bukan selalu penyingkiran, melainkan juga reposisi jaringan. Ia meninggalkan jabatan kapolri, tetapi tetap mendapat posisi strategis di sekitar presiden.
Posisi Golkar juga menarik. Bahlil memperoleh peran penting dalam energi dan hilirisasi, sedangkan Sarmuji masuk ke pengelolaan sektor industri. Itu memperlihatkan bahwa Golkar tidak hanya menjadi bagian dari koalisi, tetapi juga partner dalam menjalankan agenda ekonomi pemerintah.
Namun, penguatan politik bukanlah tujuan akhir. Publik akan menilai apakah penataan kekuasaan tersebut menghasilkan pemerintahan yang lebih efektif, koordinasi yang lebih baik, dan pelayanan yang lebih nyata.
BACA JUGA:Reshuffle Kabinet, Pertaruhan Prabowo Menguji Ekspektasi Pasar?
BACA JUGA:Setrum Politik Presiden: Reshuffle Menteri Tidak Berada di Ruang Hampa
Kepercayaan yang Bersyarat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: