Komunikasi dan Empati Tenaga Kesehatan: Terapi Pertama yang Sering Terlupakan
ILUSTRASI Komunikasi dan Empati Tenaga Kesehatan: Terapi Pertama yang Sering Terlupakan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Oleh karena itu, membangun budaya empati bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan juga tanggung jawab organisasi pelayanan kesehatan.
Rumah sakit dan klinik perlu mengembangkan budaya komunikasi yang aman (culture of safety communication). Pelatihan komunikasi terapeutik tidak cukup diberikan saat pendidikan profesi, tetapi juga harus menjadi bagian dari pengembangan kompetensi berkelanjutan.
Simulasi komunikasi pada situasi sulit, pelatihan pengelolaan emosi, debriefing setelah kasus berat, hingga supervisi komunikasi merupakan investasi penting yang berdampak langsung terhadap kepuasan pasien dan mutu pelayanan.
Di era digital, satu percakapan yang direkam telepon genggam dapat menyebar ke seluruh Indonesia dalam hitungan menit. Reputasi institusi kesehatan yang dibangun bertahun-tahun dapat runtuh hanya karena satu kalimat yang tidak tepat.
Oleh sebab itu, setiap tenaga kesehatan perlu menyadari bahwa komunikasi profesional kini menjadi bagian dari keselamatan pasien (patient safety) sekaligus keselamatan institusi (organizational safety).
Sebaliknya, kalimat positif memiliki kekuatan terapeutik yang nyata. Ucapan seperti ”mohon maaf atas ketidaknyamanannya”, ”mari saya bantu”, ”terima kasih telah menunggu”, atau ”kami akan berusaha memberikan pelayanan terbaik”, mampu menurunkan kecemasan, meningkatkan kepatuhan pengobatan, memperkuat hubungan terapeutik, bahkan mengurangi potensi konflik dan pengaduan hukum.
Kata-kata yang penuh empati sering kali menjadi ”obat” pertama sebelum tindakan medis diberikan.
Pada akhirnya, masyarakat memang berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang profesional, sedangkan tenaga kesehatan juga berhak bekerja dalam sistem yang mendukung kesehatan fisik dan mental mereka.
Jalan tengahnya adalah membangun komunikasi yang humanis, etis, dan berorientasi kepada pasien. Sebab, di balik setiap rekam medis terdapat seorang manusia yang sedang cemas, berharap, dan memercayakan hidupnya kepada tenaga kesehatan.
Ketika ilmu pengetahuan berpadu dengan empati, pelayanan kesehatan tidak hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga memulihkan martabat manusia. (*)
*) Sukma Sahadewa adalah praktisi dan akademisi FK UWKS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: