Ulasan Unfinished Love karya Klissy Myring: Realita Cinta di Antara Takdir dan Pilihan
ILUSTRASI isi buku Unfinished Love karya Klissy Myring yang diluncurkan bulan lalu.-Gemini AI-
Dia bukan hanya menjadi seorang istri yang menunggu suaminya pulang. Dia datang, menemani, bahkan mengalami sendiri atmosfer kehidupan penjara. Ruangan yang sempit, tikar, nyamuk, tahanan lain, serta bagaimana berdamai dengan para sipir penjara.
Di sinilah kekuatan utama Unfinished Love. Klissy tidak menempatkan dirinya sebagai perempuan yang semata-mata harus dikasihani. Dia justru membawa pembaca masuk ke wilayah yang lebih rumit, bagaimana seseorang tetap mencintai ketika orang yang dicintainya melakukan kesalahan?
Pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Sebab, cinta memiliki batas yang sering kali tidak bisa diterangkan dengan logika. Kita bisa dengan mudah mencintai seseorang ketika ia baik-baik saja. Kita bisa berdiri di samping seseorang ketika hidup sedang memberikan hadiah. Tetapi bagaimana ketika orang yang kita cintai jatuh? Bagaimana ketika kesalahannya ikut menyeret kehidupan kita? Dan, sampai di titik mana kesetiaan harus dipertahankan?
BACA JUGA:Ulasan Film Na Willa: Memotret Isu Diskriminasi, Pernikahan Dini, dan Parenting dari Kacamata Anak
BACA JUGA:Ulasan Kritikus Atas Wuthering Heights, Sutradara dan Margot Robbie-Jacob Elordi Dapat Pujian
Klissy tidak memberikan jawaban teoritis. Dia memberikan pengalaman hidupnya sendiri. Karena itu, Unfinished Love terasa seperti pengakuan panjang seorang perempuan kepada dirinya sendiri. Dia menengok kembali keputusan-keputusan yang pernah diambilnya, cinta yang pernah diperjuangkannya, kesalahan yang pernah terjadi, dan konsekuensi yang akhirnya harus dijalani.

GRAFIS data buku Unfinished Love yang dirilis pada 4 Juli 2026 di Kerobokan, Bali.-Canva-Gita Pratama untuk Harian Disway
Pelajaran Hidup
Menariknya, penulis tidak menjadikan kisah ini sebagai pembenaran terhadap segala pilihan hidupnya. Justru dari pengalaman pahit itu muncul kesadaran bahwa manusia sering kali menciptakan sebagian dari jalan hidupnya sendiri melalui keputusan-keputusan yang diambilnya. Seolah-olah penulis ingin mengatakan bahwa takdir adalah apa yang kita buat hari ini.
Dalam pernyataannya saat peluncuran buku, Klissy mengatakan bahwa manusia harus berani belajar dari pahit getir kehidupan dan memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Itulah sebabnya judul Unfinished Love terasa tepat.
Klissy menyebut bahwa cintanya kepada Nick tetap ada meskipun mereka pernah terpisah. Karena itulah, menurutnya, cinta tersebut menjadi unfinished love atau cinta yang tidak pernah benar-benar sampai pada akhir. Di sinilah buku ini menjadi lebih dari sekadar kisah perkawinan seorang perempuan Indonesia dengan lelaki asing.
BACA JUGA:Ulasan Buku Mawar, Bukan Nama Sebenarnya karangan Dian Purnomo: Ironi Perempuan di Negeri Patriarki
Setelah membaca buku ini, mungkin Anda akan misuh-misuh. Bagaimana tidak? Kepahitan-kepahitan hidup yang diderita penulis tidak membuatnya benci terhadap sang suami. Dia tak mampu melupakan kebaikannya atau pengalaman-pengalaman pertama yang berharga berkat suaminya.
Bahkan, saat hidup membawanya pada babak kehidupan berikutnya tanpa sang suami, dan sudah ada lelaki lain yang mendampinginya, dia tetap menyimpan nama Nick dalam hatinya. Jika saya menjadi dia, pasti saya sudah minggat jauh-jauh dan menghapus semua jejak cinta kami. Begitulah kira-kira gremengan pembaca.
Tetapi marilah kita berpikir secara adil. Bahwa setiap manusia memiliki kadar cinta yang berbeda di dalam dadanya. Ini adalah tentang seorang perempuan yang mungkin pernah bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah aku bodoh karena tetap bertahan? Ataukah justru aku sedang menjalankan sesuatu yang oleh hatiku sendiri disebut cinta? Pertanyaan semacam itu membuat pembaca tidak bisa dengan mudah menghakimi Klissy. Sebab, hidup memang tidak pernah sesederhana benar dan salah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: