Ulasan Unfinished Love karya Klissy Myring: Realita Cinta di Antara Takdir dan Pilihan
ILUSTRASI isi buku Unfinished Love karya Klissy Myring yang diluncurkan bulan lalu.-Gemini AI-
Unfinished Love menjadi menarik justru karena berada di wilayah abu-abu itu. Secara naratif, Klissy memilih bahasa yang ringan dan dekat dengan pembaca. Ia tidak berusaha membuat pengalaman hidupnya terdengar terlalu rumit atau terlalu sastrawi. Gaya semacam ini membuat buku terasa seperti seseorang sedang membuka album kehidupan dan menunjukkan satu demi satu foto yang selama ini disimpannya sendiri.
BACA JUGA:Ulasan Film Judheg (Worn Out) dalam Rangkaian JAFF 2025: Kebodohan, Kemiskinan, dan Cinta Monyet
BACA JUGA:Ulasan Film Pangku Karya Reza Rahadian: Memangku Hidup yang Tak Boleh Membeku
Namun, yang paling kuat dari buku ini adalah bagaimana penulis memiliki keberanian membuka luka yang disimpan bertahun-tahun, dan mengizinkannya dibaca oleh publik. Tidak semua orang sanggup menceritakan bagian hidup yang paling menyakitkan, atau paling mungkin membuat orang lain bertanya, "Mengapa kamu memilih itu?"
Klissy melakukannya. Dia menjadikan pengalaman sebagai buku. Dan buku itu kemudian berubah menjadi semacam ruang pengakuan: bahwa hidup seseorang tidak selalu dibentuk oleh keberhasilan. Kadang-kadang justru kegagalan, kehilangan, kesalahan, dan keputusan buruklah yang membuat seseorang memahami dirinya sendiri.
Setelah selesai membaca buku ini, pertanyaan renungan akan menghampiri pembaca. "Apa yang terjadi pada diri kita ketika cinta memaksa kita berhadapan dengan pilihan buruk?"

GITA PRATAMA meresensi Unfinished Love karya Klissy Myring karena tertarik pada gaya penceritaannya.-Canva-Gita Pratama untuk Harian Disway
Mungkin, di situlah buku ini menemukan maknanya. Cinta tidak selalu menyelamatkan seseorang. Cinta juga tidak selalu membuat hidup menjadi lebih mudah. Kadang cinta membawa kita ke tempat yang sangat gelap, memperlihatkan kepada kita sisi manusia yang paling rapuh.
BACA JUGA:Buku Memoar Julie, Memoir of a Journey Ajak Pembaca Menemukan Makna Hidup
BACA JUGA:PERLIMA Gelar Peluncuran dan Diskusi Buku Ribuan Langkah Menuju Pulang, Bahas Makna Perjalanan Hidup
Di akhir pembacaan, kita dapat merenungi bahwa memaafkan itu penting, karena selama kita belum melepaskan, selama itu kita jatuh dalam belenggu. Beberapa bagian dalam buku ini mungkin mengandung bawang, mungkin juga misuh-misuh itu tadi, tapi percayalah, membaca buku ini akan membuat kita sadar bahwa di luar sana banyak orang menjalani hidupnya dengan cara tidak mudah. Maka marilah bersyukur jika hidup kita baik-baik saja. (*)
*) Anggota Teater Crystal, pencinta buku dan puisi, tinggal di Sidoarjo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: