Mimbar Muktamar
ILUSTRASI Mimbar Muktamar.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
SAYA beruntung pernah mengikuti muktamar NU di Cipasung, Jawa Barat. Di ujung pemerintahan Orde Baru yang sangat sentralistis dan otoriter. Isu politik pada muktamar tahun 1994 itu begitu kuat. muktamar yang gaduh.
Lho, apa isu politik pada muktamar yang akan berlangsung 27–31 Agustus di Ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas, itu juga sangat kuat? Tampaknya warga nahdliyin merasakannya. Setidaknya, isu pertarungan kepemimpinan lebih kuat ketimbang isu lainnya.
Saat itu ada upaya untuk melengserkan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dari kursi ketua umum periode berikutnya. Rezim Presiden Soeharto mengusung paket Abu Hasan. Muktamar diwarnai lobi politik tingkat tinggi, tekanan rezim, dan isu politik uang.
Kita tidak tahu, apakah pemerintah kali ini ikut cawe-cawe dalam pemilihan kepemimpinan di NU. Yang pasti, istana telah membantah kemungkinan intervensi presiden. Menyerahkan sepenuhnya kepada muktamirin. Yang ada hanya sejumlah menteri dari NU yang menjadi aktor penting di muktamar kali ini.
BACA JUGA:Dindik Jatim Siapkan 7 Sekolah di Jombang Jadi Transit Peserta Muktamar ke-35 NU
BACA JUGA:PBNU Rilis Jadwal Resmi Muktamar ke-35, Penentuan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU Digelar 29 Agustus
Muktamar dahulu menjadi magnet bagi media karena isu yang mencuat sangat menarik. Melalui keputusan hasil komisi bahtsul masail atau kajian masalah-masalah, sikap terhadap situasi kenegaraan terkini, dan tentu kepemimpinan NU. Masalah-masalah aktual selalu menjadi perhatian utama muktamar.
Gus Dur hampir selalu menjadi figur sentral dalam beberapa muktamar. Ia memimpin wacana dalam segala hal. Menjelang muktamar NU di Yogyakarta (1989), saya sempat ikut nimbrung perbincangan Gus Dur dengan para wartawan senior. Dari Kompas, Tempo, dan media besar lainnya.
Dari situlah agenda setting muktamar disebarluaskan. Menjadikan muktamar sebagai peristiwa yang penuh dengan gagasan. Tentang peran sosial dan kebangsaan. Juga, tentang hal-hal kekinian yang perlu mendapatkan kajian fikih alias hukum Islam. Muktamar menjadi agenda yang ditunggu publik dari berbagai lapisan.
Bahtsul masail tentu tetap menjadi salah satu agenda dalam muktamar sekarang. Tetap membahas masalah-masalah aktual. Persoalannya hanya di hierarki perhatian. Pemilihan pemimpin dan konfigurasi kekuasaan lebih mendapat mimbar utama. Sebaliknya, pemikiran keagamaan menjadi agenda pelengkap.
BACA JUGA:Muktamar ke-35 NU Diikuti 556 Kepengurusan, Panitia Lokal Perketat Pengamanan Ring 1
BACA JUGA:DPT Muktamar Ke-35 NU, Gus Ipul Pastikan 556 Cabang Raya Kantongi Hak Suara
Saya yakin ini tidak berarti tradisi bahtsul masail mengalami kemunduran. Hanya daya pengaruhnya terhadap percakapan publik dan kebijakan nasional yang berkurang. Agenda setting tentang pergantian kepemimpinan lebih mendominasi isu muktamar.
Jika itu berketerusan, parameter keberhasilan muktamar bisa berubah. Muktamar dianggap berhasil jika pemilihan rais aam dan ketua umum berjalan lancar. Bukan karena berhasil melahirkan pemikiran besar yang menjawab masalah zaman. Sesuatu yang selama ini ditunggu publik di seluruh Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: