FPK Unair Perkuat Kolaborasi Global melalui INCOFIMS dan INCOBIFS 2026

FPK Unair Perkuat Kolaborasi Global melalui INCOFIMS dan INCOBIFS 2026

ROKHMIN DAHURI menjadi salah seorang keynote speaker dalam seminar internasional INCOFIMS dan INCOBIFS 2026.-Muhammad Fahmi Bayhaqi Abdullah untuk Harian Disway-

Melalui pertemuan lintas negara dan lintas sektor, forum itu menjadi ruang untuk membangun pemahaman bersama sekaligus memperkuat jejaring dalam menghadapi tantangan perikanan dan kelautan di masa mendatang.

Empat Keynote Speaker Bahas Isu Strategis Perikanan dan Kelautan

Rangkaian konferensi menghadirkan empat keynote speaker dengan latar belakang dan kepakaran yang beragam. 

Kehadiran empat pembicara tersebut memberikan perspektif yang luas, mulai kolaborasi pentaheliks, biodiversitas ikan endemik, pengembangan genetik komoditas akuakultur, hingga pendekatan proteomik dalam kajian lingkungan.

Keynote pertama disampaikan oleh Prof H. Rokhmin Dahuri melalui topik A Penta-Helix Collaboration in Sustainable Development of Aquaculture, Fisheries, and Marine Biotechnology Industry for a Developed and Prosperous Indonesia, and for a Better and Sustainable World.

Topik tersebut menyoroti pentingnya kolaborasi pentaheliks dalam mendorong pembangunan berkelanjutan pada sektor akuakultur, perikanan, dan industri bioteknologi kelautan. 

Perspektif tersebut sekaligus memperkuat tema besar konferensi mengenai pentingnya kolaborasi global dalam menciptakan pembangunan perikanan dan kelautan yang berkelanjutan.

Selanjutnya, Tan Heok Hui membawakan materi Endemic Inland Fishes of Borneo. Pembahasan tersebut menghadirkan perspektif mengenai kekayaan ikan endemik perairan daratan Borneo sebagai bagian dari biodiversitas yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengelolaan dan pengembangan sumber daya perikanan.

Keynote speaker ketiga adalah Jose Domingos, membahas Genetic Improvement of Asian Seabass and Red Snapper for Robust Tropical Aquaculture. Materi tersebut mengangkat pengembangan genetik ikan sebagai salah satu pendekatan dalam mendukung pengembangan akuakultur tropis yang lebih tangguh.

Sementara itu, Abdul Manan menyampaikan materi Glyphosate Metabolism in Tetrahymena thermophila: A Shotgun Proteomic Analysis Approach. Materi tersebut memperluas cakupan diskusi konferensi melalui pendekatan proteomik dalam memahami metabolisme glyphosate pada Tetrahymena thermophila.

Keempat keynote speaker tersebut memperlihatkan luasnya perspektif yang dihadirkan dalam INCOFIMS 9th dan INCOBIFS 7th. Mulai kebijakan dan kolaborasi lintas sektor, biodiversitas, pengembangan akuakultur, hingga pendekatan biologi molekuler, seluruh pembahasan menjadi bagian dari diskusi yang lebih besar mengenai keberlanjutan sektor perikanan dan kelautan.

Memperkuat Komitmen terhadap SDGs

Penyelenggaraan INCOFIMS 9th dan INCOBIFS 7th juga sejalan dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 14: Life Below Water yang berfokus pada pelestarian dan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan. 

Pembahasan mengenai biodiversitas perairan, pengembangan akuakultur, perikanan, serta bioteknologi kelautan menjadi bagian penting dalam mendorong pemanfaatan sumber daya perairan yang tetap memperhatikan aspek keberlanjutan.

Semangat tersebut diperkuat melalui SDG 17: Partnerships for the Goals, mengingat konferensi mempertemukan akademisi, mahasiswa, instansi, dan industri dari Indonesia serta berbagai negara seperti Malaysia, Australia, Thailand, dan Taiwan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: