Pesan Kenabian untuk Generasi Algoritma
Ilustrasi by Gemini.--
BACA JUGA:Memperluas Basis Pajak di Era Algoritma
Pesan ini penting ketika kemajuan semakin sering diterjemahkan menjadi angka, seperti publikasi, sitasi, ranking, paten, inovasi, dan valuasi ekonomi. Semua penting. Tetapi angka tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan siapa yang kehidupannya menjadi lebih baik karena kemajuan itu? Di situlah keberdampakan memperoleh makna.
Perguruan tinggi harus menghasilkan publikasi bermutu, tetapi ilmu menemukan makna sosialnya ketika ikut menyelesaikan persoalan manusia. Teknologi harus semakin maju, tetapi kemajuan menemukan pembenarannya ketika membuat kehidupan semakin bermartabat. Seorang insinyur tidak cukup mampu membangun jembatan yang kuat dan indah, melainkan juga perlu memahami keberdampakannya setelah jembatan itu beroperasi.
AI pun demikian. Keberhasilannya bukan semata seberapa cepat mesin menghasilkan jawaban atau seberapa akurat algoritma membuat prediksi, melainkan apakah teknologi memperbesar kemampuan manusia tanpa memperkecil martabat manusia. Kita membutuhkan pergeseran dari paradigma output menuju impact, dari pencapaian menuju kebermanfaatan.
Mendunia Menebar Rahmatan lil ‘Alamin
Horizon berikutnya adalah mendunia. Dalam pendidikan tinggi, mendunia sering dipahami melalui ranking, publikasi internasional, mobilitas akademik, dan jejaring global. Semua itu penting. Namun, mendunia bukan hanya ketika kita dikenal dunia, tetapi ketika apa yang kita kerjakan mempunyai arti bagi dunia.
BACA JUGA:Batas Akses vs Algoritma
Al-Qur'an menggambarkan misi Nabi Muhammad sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam (QS Al-Anbiya: 107). Pesan universalnya semakin tinggi pencapaian manusia, semakin luas pula radius manfaat yang seharusnya diberikan. Lantaran itu, kampus kelas dunia bukan hanya kampus yang berhasil mendatangkan dunia ke dalam kampusnya, tetapi kampus yang mampu mengirimkan gagasan, ilmu, teknologi, inovasi, dan alumninya untuk memberi arti kepada dunia.
Pertanyaan kita tidak cukup, di peringkat berapa kita berada di dunia? Kita perlu bertanya, apa yang telah kita berikan kepada dunia? Ranking dan reputasi penting, tetapi keduanya seharusnya menjadi akibat dari kontribusi, bukan pengganti kontribusi.
Akhirnya, kini kita tak bisa memungkiri bahwa AI akan semakin pintar, algoritma semakin presisi, dan mesin semakin mampu menyerupai manusia. Namun, teknologi hanya memberi kita kemampuan, nilai-nilai kenabianlah yang menentukan arah penggunaannya. Lantaran itu, Maulid bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menghadirkan kompas moral untuk memasuki masa depan.
BACA JUGA:Algoritma Kebencian dan Peliyanan Syiah
Generasi algoritma harus tangguh dengan keteladanan, berdampak dengan kebermanfaatan, dan mendunia dengan spirit rahmatan lil ‘alamin. Sebab, ketika mesin semakin menyerupai manusia, tantangan terbesar kita justru bukan bagaimana membuat teknologi semakin cerdas, melainkan bagaimana memastikan manusia tetap manusia. (*)
*) Wakil Rektor II Institut Teknologi Sepuluh Nopember; Alumnus Pondok Pesantren Al-Hidayah, Bangkalan, Madura.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: