Algoritma Kebencian dan Peliyanan Syiah

Algoritma Kebencian dan Peliyanan Syiah

ILUSTRASI Algoritma Kebencian dan Peliyanan Syiah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

LANGIT Timur Tengah kembali membara dan menyedot perhatian dunia. Ketegangan mutakhir yang melibatkan Iran, faksi-faksi bersenjata di wilayah Timur Dekat, hingga rentetan eskalasi militer di berbagai kawasan perbatasan menegaskan bahwa semenanjung tersebut masih menjadi titik didih geopolitik global. 

Berita tentang peluncuran misil, pencegatan udara, dan retorika ancaman antarnegara kini tidak lagi sekadar menjadi laporan luar negeri yang berjarak. 

Pada era hiperkonektivitas, dentuman konflik di pesisir Mediterania atau Teluk Persia itu bergema seketika, menembus batas benua, dan mendarat langsung di layar gawai masyarakat Nusantara. 

Begitu eskalasi itu memuncak, lini masa media sosial di tanah air seketika menjelma menjadi cermin yang retak. Informasi yang mengalir deras tidak lagi diolah melalui nalar kritis, tetapi ditelan mentah-mentah oleh emosi massa. 

BACA JUGA:Algoritma Media Sosial dan Urgensi Literasi Multikultural

BACA JUGA:Demokrasi di Bawah Bayang-Bayang Algoritma

Alih-alih meresponsnya murni sebagai krisis kemanusiaan atau perebutan hegemoni global, ruang siber domestik justru mereduksinya menjadi bahan bakar sentimen sektarian. Narasi anti-Syiah mendadak meroket tajam di kolom komentar internet. 

Potongan video tanpa konteks, gambar provokatif, dan narasi yang membakar amarah direproduksi secara masif dan didistribusikan dalam hitungan detik. 

Platform digital sejatinya dirancang untuk mendulang interaksi, dan kemarahan adalah emosi yang paling cepat memicu keterlibatan (engagement). Ruang digital kita pun berubah beringas menjadi medan tempur virtual. 

Di dalam ruang gema (echo chambers) itu, aktor-aktor geopolitik asing seolah sukses menyulap masyarakat awam Indonesia menjadi serdadu proksi untuk peperangan yang bukan milik mereka. 

BACA JUGA:Echo Chamber Digital: Bagaimana Algoritma Memengaruhi Pandangan Politik Kita

BACA JUGA:Pidato Presiden dalam Algoritma AI

Secara antropologis, fenomena impor konflik itu adalah alarm bahaya bagi kohesi sosial di akar rumput. Ketika api geopolitik ditiupkan ke ruang maya, proses konstruksi identitas komunal terjadi dengan sangat sistematis dan brutal. 

Masyarakat digiring ke dalam ruang gema algoritma yang membelah ikatan sosial, memaksakan stempel ”sesat” pada kelompok tertentu, dan pada akhirnya mencurigai tradisi kultural lokal yang sebenarnya sudah mengakar ratusan tahun. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: