Algoritma Kebencian dan Peliyanan Syiah

Algoritma Kebencian dan Peliyanan Syiah

ILUSTRASI Algoritma Kebencian dan Peliyanan Syiah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Mesin propaganda global yang diamplifikasi algoritma media sosial memfasilitasi proses peliyanan itu. 

Ironisnya, mesin propaganda tersebut justru diadopsi dan digerakkan secara sadar oleh kelompok puritan di internal umat Islam Indonesia sendiri. 

Melalui corong dakwah domestik, masyarakat dipaksa membedakan tegas antara ”kelompok sendiri” yang diklaim paling murni dan ”kelompok liyan” (sesama muslim berbeda pandangan) yang harus dimusuhi. 

Stempel ”sesat” dan ”menyimpang” disematkan sepihak, sering kali tanpa ruang dialog, oleh saudara seagama. 

Sentimen teologis itu diproduksi massal semata-mata untuk menjustifikasi eksklusi sosial, mengubah wajah perbedaan kultural yang lazim menjadi ancaman akidah fiktif yang seolah wajib dibasmi. 

RESOLUSI KULTURAL SEBAGAI BENTENG 

Mengurai benang kusut polarisasi sosial yang ditunggangi algoritma digital itu tidak akan cukup jika hanya mengandalkan pendekatan keamanan aparat hukum atau sekadar regulasi negara. 

Masyarakat Nusantara sejatinya sejak dulu telah dibekali mekanisme pertahanan sosiologis yang teruji keampuhannya melintasi zaman. Yakni, asimilasi dan sinkretisme budaya. 

Konsep the other yang direkayasa mesin geopolitik global dan diamplifikasi algoritma digital harus segera didekonstruksi secara kultural. 

Caranya adalah merevitalisasi ingatan kolektif masyarakat tentang akar sejarah persaudaraan yang mengikat mereka. Ritus lokal seperti Tabuik, festival Tabot, hingga tradisi Asyura harus dikembalikan pada fungsi aslinya sebagai perekat sosial, bukan dibiarkan menjadi sasaran persekusi puritanisme. 

Tradisi itu adalah monumen hidup yang membuktikan bahwa silang budaya dan perbedaan teologis dapat dilebur ke dalam harmoni kebudayaan komunal. 

Resolusi utama dari ancaman konflik sektarian impor tersebut adalah rekulturalisasi. Masyarakat harus dikembalikan pada habitat sosiologis aslinya: entitas majemuk yang diikat gotong royong, bukan diceraiberaikan dogma eksklusif. 

Pertahanan paling tangguh memutus rantai kebencian proksi global bukanlah berdebat kusir di ruang maya, melainkan merawat kebudayaan sendiri. 

Menempatkan identitas keindonesiaan dan ikatan kekerabatan kultural jauh di atas sentimen sektarian asing adalah satu-satunya cara agar tatanan sosial di akar rumput berhenti menjadi serdadu bagi peperangan yang bukan milik mereka. (*)

*) Achmad Muzakky Cholily, antropolog dan pengurus Lakpesdam PCNU Surabaya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: