Algoritma Kebencian dan Peliyanan Syiah
ILUSTRASI Algoritma Kebencian dan Peliyanan Syiah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Perang narasi tersebut bukan sekadar luapan emosi digital, melainkan juga ancaman nyata yang perlahan membakar kewarasan sosial dan bersiap mengubah kawan bertetangga menjadi musuh bebuyutan.
JEJAK HISTORIS: DARI PERSIA HINGGA NUSANTARA
Untuk memahami ironi tragis dari konflik sektarian hari ini, lensa sejarah harus ditarik mundur berabad-abad. Eksistensi dan jejak kultural Syiah di Indonesia bukanlah fenomena baru yang muncul tiba-tiba.
Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa pengaruh kultural Persia, yang sangat sarat tradisi Syiah, telah hadir di Nusantara sejak masa-masa awal masuknya Islam.
Jejak itu diperkirakan meresap kuat pada abad ke-11 hingga ke-13 melalui interaksi damai pedagang dari Gujarat serta Persia.
Satu hal esensial untuk dicatat: kehadiran awal itu tidak datang membawa bendera penaklukan militer, tetapi melalui jalur kultural yang berpadu lembut dan elegan bersama kepercayaan lokal.
Ekspansi kebudayaan itu menggunakan pendekatan kompromistis, bukan dogmatis. Analisis dari berbagai sejarawan klasik, seperti Prof Hoesein Djajadiningrat, menunjukkan jejak kultural tersebut terlihat jelas pada penghormatan masyarakat Nusantara yang begitu tinggi terhadap keluarga nabi (ahlulbait).
Kita juga bisa melihatnya dalam peringatan Muharam yang di tanah Jawa diadaptasi secara spiritual menjadi bulan Suro hingga mewujud dalam berbagai kesenian bernapas Islam.
Pengaruh teologis dan sosiologis itu perlahan meresap, mengalami proses pribumisasi yang indah, dan terasimilasi menjadi kebudayaan lokal yang sangat organik. Selama berabad-abad, keberagaman itu diterima secara luas tanpa gejolak berarti oleh masyarakat kita.
KONSTRUKSI THE OTHER DAN STEMPEL KESESATAN
Sayang, wajah kultural damai itu berubah drastis memasuki era modern. Dinamika pasca-Rrevolusi Iran 1979 mengubah peta kekuatan di Timur Tengah, memicu rivalitas politik tajam dengan Arab Saudi.
Persaingan geopolitik itulah yang bersalin rupa menjadi perang proksi ideologis yang diekspor ke berbagai negara berpenduduk mayoritas muslim, termasuk Indonesia.
Dalam konteks itulah, konsep antropologi mengenai the other (sang liyan) diaplikasikan secara sistematis untuk memarginalkan kelompok tertentu.
Proses peliyanan itu adalah mekanisme psikologis dan sosiologis. Sebab, identitas asli suatu kelompok sengaja diabaikan, lalu digantikan label ”ancaman”, ”kotor”, atau ”lawan” dari kelompok yang menganggap dirinya lebih dominan.
Fenomena peliyanan tersebut terlihat sangat nyata menimpa komunitas Syiah di Indonesia. Identitas mereka, yang dahulu melebur damai dalam lanskap budaya Nusantara, kini dikonstruksi ulang secara paksa menjadi entitas asing yang dianggap berbahaya dan patut dicurigai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: