Era Digital: Orang Tua Dikerjai AI, Anak Curhat ke AI

Era Digital: Orang Tua Dikerjai AI, Anak Curhat ke AI

ILUSTRASI Era Digital: Orang Tua Dikerjai AI, Anak Curhat ke AI.-AI/Gemini-

Karena itu, kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan generasi muda jika kelak mereka lebih nyaman meluahkan isi hati kepada kecerdasan buatan atau mencari pelarian di ruang digital. Keterasingan emosional itu bukanlah kegagalan bawaan anak, melainkan dampak sistemik dari sebuah ekosistem di mana generasi tua melepaskan kemudi kehadiran. 

Ketika orang tua gagap menghadapi manipulasi informasi digital tetapi di saat yang sama membiarkan anaknya diasuh oleh stimulasi layar, rumah perlahan kehilangan fungsinya sebagai benteng psikologis.

Merekonsiliasi hubungan itu tidak berarti membuang teknologi atau berpura-pura kembali ke masa pradigital secara utuh. Merekonsiliasi berarti mendudukkan kembali teknologi sesuai takdir dasarnya: sebagai alat penunjang, bukan sebagai subjek pengasuh.

Proses itu dimulai dengan keberanian menyadari sebuah siklus fundamental kehidupan. Di era digital, kita sering terjebak dalam ilusi bahwa jika semua bisa dicapai secara instan, kita akan tiba di garis finis kebahagiaan. Padahal, ketika tujuan itu tercapai secara instan di ujung jari, pertanyaan terbesar justru muncul: kalau sudah sampai tujuan, lalu apa? 

Pada akhirnya, manusia akan selalu kembali ke titik mula. Jika kita selalu kembali ke titik awal untuk memulai proses yang baru, yang berharga sebenarnya bukanlah garis finis itu sendiri, melainkan bersama siapa kita menghayati perjalanan tersebut.

Oleh karena itu, rekonsiliasi paling mendasar adalah merebut kembali ruang hampa di dalam rumah. Kita harus berani menghadirkan kembali rasa bosan di tengah keluarga, bukan lagi menganggapnya sebagai musuh yang harus dibasmi dengan screen time

Rasa bosan itu adalah jeda kognitif yang memberikan ruang bagi anak untuk berimajinasi, menyadari diri, dan memproses emosinya secara mandiri. Di saat yang sama, kehadiran orang tua harus diubah dari sekadar fisik menjadi kehadiran yang utuh. 

Anak tidak membutuhkan orang tua yang ada di ruangan yang sama, tapi tatapannya terpaku pada gawai; melainkan tatapan mata yang sungguh-sungguh menyimak cerita mereka tanpa terdistraksi notifikasi.

Lebih jauh dari itu, kita perlu mengembalikan anak-anak kita ke tanah, ke permainan fisik, dan ke ruang-ruang interaksi tetangga di sekitar rumah. Keterikatan dengan lingkungan nyata adalah jaring pengaman terbaik untuk memitigasi bahaya isolasi sosial di era digital. (*) 

*) Gagas Gayuh Aji adalah dosen manajemen perkantoran digital, Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: