Hidup di Negeri Risiko

Hidup di Negeri Risiko

ILUSTRASI Hidup di Negeri Risiko.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Namun, kita sering lupa atas ingatan sosial kita terhadap risiko. Sesudah bencana besar, kesadaran meningkat. Seminar diselenggarakan. Simulasi dilakukan. Pemerintah dan masyarakat berbicara tentang mitigasi. Namun, setelah beberapa waktu, perhatian soal bencana menurun. Sampai kemudian bencana berikutnya datang dan kita kembali terkejut.

Karena itu, kesiapsiagaan tidak bisa hanya diserahkan kepada BNPB dan BPBD. Mitigasi harus menjadi bagian dari pembangunan, pendidikan sekolah, riset kampus, pengelolaan gedung, tata ruang pemerintah daerah, inisiatif komunitas, dan rencana kedaruratan setiap keluarga.

Senada dengan pandangan Kaori Kitagawa (2021) tentang konseptualisasi pendidikan bencana, kita perlu membangun public pedagogy yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam pengurangan risiko bencana. Penerapannya harus berbasis komunitas agar lebih terarah dan realistis. 

Bukankah setiap komunitas memiliki ingatan bencana dan telah membangun kearifan lokal untuk mengurangi risikonya? Mari kita bangun budaya kesiapsiagaan yang partisipatif, sesuai dengan kearifan lokal, tak perlu ”satu solusi untuk semua”.

Menggeliatnya Anak Krakatau akhir-akhir ini seharusnya tidak hanya kita lihat sebagai gunung yang sedang erupsi. Ia adalah pengingat tentang sebuah kenyataan geografis yang tidak dapat kita ubah.

Kita Hidup di Negeri Risiko

Indonesia berdiri di atas patahan, di antara gunung api, menghadap laut yang menyimpan gempa dan tsunami, serta menghadapi hujan ekstrem dan kekeringan yang kian sulit ditebak. Kita tidak dapat memindahkan negeri ini dari jalur bencana, tetapi kita dapat mengubah cara hidup di dalamnya.

Jangan biarkan setiap bencana datang sebagai kejutan. Kenali tanah yang dipijak, pahami tanda-tanda alam, hafalkan jalur evakuasi, dan bangun kesiapsiagaan sebagai kebiasaan bersama.

Sebab, ancaman mungkin tak selalu dapat dicegah, tetapi kerentanan dapat dikurangi. Pengetahuan dapat menyelamatkan, dan kesiapan dapat mengubah bencana agar tidak menjadi tragedi.

Menyadari Indonesia sebagai negeri risiko bukan berarti hidup dalam ketakutan. Itulah cara kita merawat kehidupan. (*)

*) Suko Widodo adalah dosen Departemen Komunikasi, FISIP, Universitas Airlangga, Surabaya.

*) Rinda Aunillah Sirait  adalah peneliti Pusat Studi Komunikasi Lingkungan, Fikom, Universitas Padjadjaran, Bandung.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: