Merawat Warisan Airlangga Pribadi
ILUSTRASI Merawat Warisan Airlangga Pribadi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Ia dalam berbagai kasus memilih menjaga jarak dengan kekuasaan agar matanya tetap awas melihat ketimpangan, pelanggaran HAM, pengkhianatan demokrasi, dan suaranya tetap nyaring menyuarakan kebenaran.
Warisan
Dedikasi Angga sebagai intelektual muda tecermin dari perannya sebagai dosen idola di mata mahasiswa. Angga bukan sekadar seorang pengajar yang memindahkan isi buku teks ke papan tulis.
Ia adalah seorang mentor yang memprovokasi kesadaran kritis para mahasiswanya, menantang mereka untuk mempertanyakan kemapanan status quo, dan selalu menekankan pentingnya moralitas dalam berilmu.
Hingga saat-saat terakhirnya, kepedulian Angga terhadap arti penting demokratisasi tidak pernah padam. Sehari dan minggu-minggu sebelum kepergiannya, Angga masih sangat aktif beraktivitas di kampus dan tengah berada di Jakarta dalam rangka persiapan diskusi serta seminar untuk karya buku terbarunya yang sangat relevan, yakni Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z.
Buku tersebut merefleksikan kegelisahan intelektualnya untuk merekontekstualisasi pemikiran kerakyatan agar dapat dipahami dan diadopsi oleh anak-anak muda zaman sekarang dalam menghadapi tantangan zaman baru.
Ia jatuh pingsan di sebuah kafe di daerah Gambir di tengah perbincangan hangat mengenai ide-ide kebangsaan, sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir akibat serangan jantung di RSPAD Gatot Soebroto. Kematian yang mendadak itu mengejutkan kita semua.
Namun, ada sebuah warisan yang penting: ia berpulang saat sedang menghidupkan dan merawat nalar kritis generasi muda. Selamat jalan, Mas Angga! Kami benar-benar kehilangan. (*)
*) Bagong Suyanto adalah guru besar dan ketua Badan Pertimbangan Fakultas (BPF), FISIP, Universitas Airlangga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: