Anak muda, Hutan, dan Masa Depan Wisata Indonesia

Anak muda, Hutan, dan Masa Depan Wisata Indonesia

ILUSTRASI Anak muda, Hutan, dan Masa Depan Wisata Indonesia.-AI/Gemini-

HUTAN bukan sekadar deretan pohon menjulang atau suara burung yang bersahutan di kejauhan. HUTAN adalah paru-paru bumi, rumah bagi ribuan satwa, dan panggung alami yang membuat wisata alam Indonesia selalu punya kisah untuk dibanggakan. 

Sebagai mahasiswi pariwisata, saya memandang hutan sebagai aset yang tak ternilai, pemberi kehidupan, dan sesuatu yang tidak bisa dibeli, tetapi bisa hilang seketika jika kita lengah.

Namun, tahun ini hati saya benar-benar perih. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat, hingga pertengahan 2026, kebakaran hutan dan lahan telah menghanguskan lebih dari 300 ribu hektare wilayah di Indonesia. 

Bukan hanya pepohonan yang musnah, melainkan juga mimpi-mimpi wisata yang ikut terkubur abu. Taman nasional yang biasanya ramai oleh pendaki kini sunyi. Jalur pendakian yang dulu dipenuhi kicau burung kini hanya menyisakan batang-batang hitam dan tanah yang retak. 

BACA JUGA:Petani Hutan Tesso Nilo: Raksasa Lembut yang Mencuri Hati

BACA JUGA:Saat Hutan Menjauh dari Rakyat, Bencana yang Mendekat: Sedhakep Angawe-awe

Wisatawan membatalkan perjalanan, pelaku usaha kehilangan penghasilan, dan citra destinasi kita di mata dunia ikut tercoreng.

Yang membuat saya makin prihatin adalah kenyataan bahwa banyak kebakaran itu bukan bencana alam murni. Ada pihak-pihak yang dengan sengaja membakar hutan demi membuka lahan sawit. Menurut laporan Greenpeace, sebagian besar titik api berada di sekitar konsesi perkebunan besar. 

Di Papua, hutan adat yang telah menjadi sumber kehidupan masyarakat selama ratusan tahun dirampas untuk perkebunan skala industri. Warga kehilangan tanah, kehilangan identitas, dan kehilangan masa depan.

Di balik semua itu, ada luka yang menusuk hati: kematian satwa. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana seekor orangutan yang terjebak di tengah api, burung-burung yang jatuh dari langit karena asap, atau anak rusa yang kehilangan induknya. 

BACA JUGA:Hutan Indonesia, Saatnya Patungan Cinta Rakyat Merebutnya (Kembali)

BACA JUGA:Hujan Tidak Bersalah, Hutanlah Yang Kehilangan Tanah

Mereka tidak punya pilihan selain berlari, dan sering kali, pelarian itu berakhir pada kematian. Setiap kali melihat foto-foto itu, dada saya terasa sesak. Rasanya seperti kehilangan sahabat yang tak pernah sempat kita kenal.

Namun, di tengah kesedihan itu, saya percaya kita masih punya harapan. Sebagai generasi muda, khususnya gen Z, kami memiliki kekuatan yang luar biasa yaitu akses informasi tanpa batas, jaringan global, dan suara yang bisa menggema dalam hitungan detik. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: