Ketika Trump Menjual 'Amerika'
ILUSTRASI Ketika Trump Menjual 'Amerika'.-Arya/AI-Harian Disway-
Pertama: energi. Sekitar 20–25 persen kebutuhan crude Indonesia masih terkait pasokan dari kawasan Teluk Persia menurut keterangan pemerintah pada awal konflik. Gangguan berkepanjangan di Hormuz berarti Indonesia menghadapi risiko harga impor energi, subsidi, ongkos transportasi, inflasi, dan akhirnya tekanan fiskal.
Jadi, ketika Trump mengatakan: ”We’re winning.” Jakarta jangan ikut tepuk tangan dulu. Jakarta perlu melihat harga Brent. Sebab, bagi Indonesia, ukuran kemenangan bukan berapa banyak kapal Iran dihancurkan.
Pertanyaannya: berapa harga minyak yang harus kita bayar?
Kedua: perdagangan. Kesepakatan tarif Indonesia-AS tahun 2026 memperlihatkan bagaimana pemerintahan Trump bernegosiasi.
Ancaman dulu. Tekanan. Negosiasi. Kompromi. Deal.
Indonesia berhasil menurunkan tarif yang sebelumnya diancamkan 32 persen menjadi 19 persen dan memperoleh pengecualian bagi lebih dari 1.800 produk, tetapi Jakarta juga memberikan konsesi besar dalam akses pasar, energi, pertanian, digital, dan mineral kritis.
Pelajarannya sederhana: dengan Trump, jangan terlalu sibuk mendengar kalimat pertama. Tunggu posisi tawar terakhir.
Ketiga: mineral kritis. Indonesia punya nikel. Amerika ingin mengurangi ketergantungannya terhadap rantai pasok Tiongkok. Trump sendiri telah mengarahkan pemerintahannya mencari kesepakatan dengan negara lain untuk mengamankan critical minerals daripada hanya mengandalkan produksi domestik.
Di sini Indonesia punya kartu. Tetapi, kartu hanya berguna kalau kita tahu nilainya. Jangan buru-buru meletakkannya di meja.
Keempat: geopolitik Indo-Pasifik. Jika AS terus tersedot ke Iran, kapasitas politik, militer, amunisi, dan perhatian strategis Washington akan terbagi. Bagi Indonesia, pertanyaannya kemudian menyentuh Laut China Selatan, Natuna, ASEAN, dan keseimbangan AS-Tiongkok.
Washington yang terlalu sibuk di Teluk dapat memberikan ruang strategis lebih besar kepada Beijing di Asia. Sebaliknya, AS yang ingin mengimbangi Tiongkok akan membutuhkan Indonesia lebih besar lagi.
Maka, Jakarta jangan menjadi penonton. Indonesia harus menjadi swing state strategis yang punya harga. Tidak anti-AS. Tidak anti-Tiongkok. Tetapi, pro-kepentingan Indonesia.
Saya akhirnya membayar lumpia. Pak Kadek menghitung uangnya. Tidak ada Trump Dividend. Tidak ada tarif. Tidak ada fake news.
Transaksinya sederhana. Di situ saya paham satu hal: dalam politik, kulit yang renyah memang membuat orang ingin mencicipi. Tetapi, cepat atau lambat, orang akan membuka dan melihat seluruh isinya.
Donald Trump sangat menguasai seni membuat orang bermimpi. Pemilu November nanti menunjukkan pertanyaan berikutnya: apakah mayoritas orang AS masih menyukai rasanya? (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: