Ketika Trump Menjual 'Amerika'
ILUSTRASI Ketika Trump Menjual 'Amerika'.-Arya/AI-Harian Disway-
Trump hanya perlu mengatakan: ”Lima ribu dolar.”
Reuters memperkirakan, skema itu dapat menelan biaya sekitar USD1,35 triliun, dan AP mencatat pembayaran sebesar itu memerlukan persetujuan Kongres. Pendapatan tarif sendiri tidak serta-merta menyediakan dana sebesar itu.
Di sinilah seni omong-omong bertemu seni dagang.
Pak Kadek menjual lumpia: ”Beli lima, bonus satu.” Trump menjual: ”Menangkan House dan Senate, dapat USD5.000.”
Bedanya, Pak Kadek sudah menghitung harga tepung. Washington masih harus menghitung anggaran lagi.
Trump Sebenarnya Mau Apa?
Kalau semua kalimat Trump di Dallas disaring dari tepuk tangan, lelucon, serangan terhadap Demokrat, dan cerita mengenai dirinya sendiri, saya melihat tiga sasaran utama.
Pertama, menyelamatkan mayoritas Republik pada 3 November. Itu yang paling mendesak. Trump tahu pemilih yang datang memilih dirinya dalam presidential election belum tentu datang dalam midterm.
Karena itu, ia berkata: anggap saya ada di surat suara. Trump sedang meminjamkan dirinya kepada kandidat Republik.
Kedua, mempertahankan dirinya sebagai pusat gravitasi Partai Republik. Trump tidak mau menjadi presiden yang hanya tinggal dua tahun lagi. Ia ingin seluruh partai tetap berputar di orbitnya.
Menang karena Trump. Berkampanye bersama Trump. Membela kebijakan Trump. Meneruskan agenda Trump. Dengan demikian, bahkan setelah ia tidak lagi berada di surat suara, trumpisme tetap menjadi infrastruktur politik.
Ketiga, dan ini paling penting: Trump sedang membangun narasi warisan. Builder. Deal-maker. Border president. Tariff president. Wartime president. Peacemaker.
Trump ingin semuanya sekaligus. Sebab itulah, bahkan selat pun akhirnya ingin diberi namanya.
Apa Urusannya dengan Indonesia?
Banyak. Indonesia tidak punya suara dalam pemilu AS. Tetapi, Indonesia punya kepentingan terhadap hampir semua yang sedang dibicarakan Trump.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: