Bercanda atau Melukai?

Bercanda atau Melukai?

ILUSTRASI Bercanda atau Melukai?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Bagi orang yang menjadi sasaran, pengalaman yang sama bisa berarti dipermalukan di depan umum, dijadikan bahan meme, dan meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus.

Karena itu, kita perlu memahami bahwa perilaku di tempat kerja berada dalam sebuah spektrum. Ia dapat berawal dari candaan, lalu bergeser menjadi sindiran, ketidaksopanan, pengucilan, agresi, perundungan, bahkan pelecehan. Semua itu tidak sama dan tidak seharusnya dicampuradukkan.

Candaan yang sehat biasanya terjadi ketika kedua pihak sama-sama nyaman, relasi relatif setara, tidak terus-menerus menyasar orang yang sama, tidak menyentuh wilayah sensitif, dan dapat dihentikan ketika salah satu pihak merasa tidak nyaman.

Sindiran mulai bermasalah ketika kelemahan atau identitas seseorang dijadikan sasaran. Ketidaksopanan muncul ketika norma dasar saling menghormati dilanggar. Pengucilan menjadi serius ketika dilakukan berulang dan membuat seseorang tersisih. 

Perundungan melibatkan perilaku menyakiti yang berulang disertai ketimpangan kekuasaan sehingga korban lebih sulit melawan atau menghentikannya.

Karena itu, tidak semua perilaku yang tidak menyenangkan tepat disebut bullying. Ketelitian dalam memberi nama penting agar kita tidak menyepelekan masalah, tetapi juga tidak menggunakan istilah berat untuk setiap ketidaknyamanan.

Lalu, seperti apa candaan yang sehat?

Ukurannya sebenarnya sederhana. Kedua pihak sama-sama tertawa. Candaan tidak terus-menerus menyasar orang yang sama. Hal pribadi dan sensitif tidak dijadikan bahan. Jabatan tidak digunakan untuk memaksa orang ikut tertawa. Dan, ketika seseorang berkata, ”sudah”, candaan benar-benar dihentikan.

Kita juga perlu bertanya: apakah orang yang menjadi sasaran memiliki kebebasan yang sama untuk membalas? Apakah ia bebas mengatakan bahwa dirinya tidak nyaman? Jika jawabannya tidak, ada ketimpangan yang perlu diperhatikan.

Tanggung jawab menjaga ruang kerja yang nyaman ada pada semua orang. Jika kita menjadi pelaku tanpa sadar, yang perlu dilakukan bukan segera membela diri, melainkan berhenti, mendengarkan, mengakui dampak, memperbaiki hubungan bila memungkinkan, dan tidak mengulanginya.

Jika kita melihat rekan diperlakukan dengan candaan yang melukai, kita juga tidak harus diam. Kita dapat menegur, mengalihkan situasi, mencari bantuan, menanyakan keadaan rekan setelah kejadian, atau mendokumentasikan peristiwa bila memang diperlukan.

Bagi pemimpin, tanggung jawabnya lebih besar. Pemimpin perlu menjadi teladan, peka terhadap dinamika tim, menghentikan perilaku yang mulai menjadi kebiasaan, melindungi rasa aman anggota, dan memperkuat budaya saling menghormati. Sebab, budaya organisasi tidak hanya dibentuk oleh apa yang dilakukan pemimpin, tetapi juga oleh apa yang dibiarkan terjadi.

Satu candaan dapat berkembang menjadi perilaku berulang, kemudian kebiasaan, norma kelompok, lalu budaya kantor. Kalimat ”di sini memang biasa begitu” justru dapat menjadi tanda bahwa sesuatu yang semula tidak pantas telah dinormalisasi.

Kita tidak perlu menghilangkan humor dari tempat kerja. Kita hanya perlu mengetahui batasnya. Kritiklah pekerjaan, bukan pribadi. Hargai perbedaan. Jangan mempermalukan. Jangan menjadikan posisi atau jabatan sebagai alasan untuk membuat orang lain terpaksa tertawa.

Humor yang baik membuat kita tertawa bersama, bukan menertawakan seseorang. Ukuran terakhirnya sederhana: setelah candaan itu selesai, apakah kita menjadi lebih dekat dan merasa lebih aman, atau justru ada seseorang yang pulang membawa luka? (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: