Bercanda atau Melukai?
ILUSTRASI Bercanda atau Melukai?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
ASN Belajar Seri 31 yang diselenggarakan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 3 September 2026 mengangkat satu tema yang tampak ringan, tetapi sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan kerja sehari-hari: kapan bercanda masih menjadi kelucuan dan kapan pula bercanda mulai berubah menjadi luka?
Pertanyaan itu penting karena humor memang dibutuhkan di tempat kerja. Dengan candaan, suasana menjadi cair, ketegangan berkurang, mampu membangun keakraban, dan membuat hari kerja terasa lebih menyenangkan. Namun, ternyata tidak semua yang membuat orang tertawa otomatis membuat ruang kerja menjadi nyaman dan saling menghargai.
Batas itu makin penting ketika candaan menyentuh hal pribadi atau terjadi dalam relasi yang tidak setara. Komentar tentang fisik, usia, rumah tangga, asal daerah, logat bicara, atau kemampuan kerja mungkin dianggap lucu oleh sebagian orang, tetapi dapat terasa merendahkan bagi orang yang menjadi sasaran.
Persoalannya tidak cukup dilihat dari niat. Seseorang mungkin berkata, ”saya hanya bercanda.” Akan tetapi, niat bercanda tidak otomatis membuat dampaknya baik. Dalam memahami sebuah candaan, setidaknya ada tiga hal yang perlu dibedakan: niat, perilaku, dan dampak.
BACA JUGA:8 Kalimat Sering Dianggap Bercanda, Ternyata Bisa Masuk Pelecehan Seksual!
BACA JUGA:Saat Kades dan Istri Pamer Gepokan Duit: Katanya, Cuma Bercanda
Niat adalah apa yang ada dalam pikiran ketika seseorang melontarkan candaan. Perilaku adalah apa yang benar-benar dikatakan atau dilakukan. Dampak adalah apa yang dirasakan oleh penerima.
Karena itu, kalimat ”saya tidak bermaksud menyakiti” tidak selalu menyelesaikan persoalan.
Sebaliknya, kita juga tidak perlu tergesa-gesa menyimpulkan bahwa setiap orang yang tersinggung pasti mengalami perundungan atau pelecehan. Situasi perlu dilihat lebih utuh melalui lima lensa: niat, dampak, kuasa, pola, dan konteks. Lima hal tersebut membantu kita tidak berlebihan, tetapi juga tidak menyepelekan luka seseorang.
Bayangkan, seorang pegawai menjadi sasaran candaan di depan rekan-rekannya. Ia ikut tertawa, tetapi sebenarnya mendongkol. Ada pula orang yang memilih diam karena takut dianggap terlalu sensitif atau tidak bisa bercanda. Apakah candaan itu tetap sekadar kelucuan?
BACA JUGA:Yudo Sadewo Klarifikasi soal Sri Mulyani Agen CIA, Ngaku Hanya Bercanda untuk Ternak Mulyono
BACA JUGA:Bercanda tapi Relevan
Jika ukurannya hanya apakah orang-orang tertawa, jawabannya mungkin iya. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah orang yang menjadi sasaran merasa nyaman dan memiliki kebebasan yang sama untuk membalas atau menghentikan candaan. Jika tidak, candaan tersebut akan mulai bergeser menjadi kelukaan.
Ruang kerja kita sekarang juga tidak berhenti di kantor. Grup WhatsApp dan berbagai ruang digital telah menjadi bagian dari kehidupan kerja. Kesalahan seorang pegawai yang difoto, disebarkan ke grup, lalu diberi komentar mengejek mungkin mengundang banyak emoji tertawa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: