Apakah Kurikulum Cambridge di Sekolah Sudah Benar Cambridge?

Apakah Kurikulum Cambridge di Sekolah Sudah Benar Cambridge?

ILUSTRASI Apakah Kurikulum Cambridge di Sekolah Sudah Benar Cambridge?-AI/Gemini-

Di satu sisi, kurikulum Cambridge memang menawarkan ”kemewahan” belajar dengan sarana dan prasarana kelas wahid yang berstandar internasional. Di sisi lain, kesiapan guru dan peserta didik dalam mengaplikasikan kurikulum tersebut dianggap masih sebatas retorika dan belum sepenuhnya dieksekusi. 

Melalui pengamatan langsung ke beberapa sekolah, peneliti menemukan bahwa sebagian besar sekolah masih belum menerapkan kurikulum Cambridge sepenuhnya. Kasus yang sering dijumpai adalah ”bukunya yang Cambridge”. 

Oleh karena itu, isu tentang kesiapan sekolah nasional plus dan madrasah dalam mengusung kurikulum tersebut kembali menyeruak ke permukaan. Maka dari itu, rasanya tidak berlebihan apabila tidak sedikit pihak menganggap bahwa kurikulum Cambridge tak lebih dari sekadar ”siren song”, minim esensi tetapi sarat kepentingan. 

Peran Perangkat Sekolah dalam Aplikasi Kebijakan

Menurut teori kekuasaan Michael Foucault, kekuasaan tidak terpusat pada satu titik, tetapi diseminasikan dalam jaringan yang lebih kecil. Kebijakan penerapan kurikulum Cambridge sebaiknya tidak terpusat pada pengambilan keputusan oleh petinggi sekolah maupun yayasan, tetapi melibatkan peran guru dalam eksekusi di lapangan. 

Pengaplikasian teori tersebut dapat diwujudkan melalui kolaborasi guru, kepala sekolah, anggota yayasan, dan staf untuk mewujudkan penerapan kurikulum Cambridge yang holistik dan berdampak. Maka dari itu, perlu ada refleksi dan penyesuaian yang mendalam untuk aplikasi kurikulum tersebut. 

Menggunakan istilah Jawa, ”guru iku digugu lan ditiru”, penerapan awal hendaknya berfokus pada pemberian pelatihan berstandar Cambridge kepada para guru. Guru yang bersertifikasi Cambridge dapat digunakan sebagai bukti otentik bahwa guru tersebut menguasai kurikulum yang diampu. 

Hasil dari pelatihan tersebut diharapkan memberikan pemahaman nilai-nilai esensial dari kurikulum tersebut sehingga para guru mampu menuangkan konsep mereka dalam praktik di lapangan. 

Di samping itu, siswa juga memiliki tujuan belajar yang sesuai sehingga mereka juga mendapat manfaat dari apa yang para guru pelajari sebelumnya. 

Selain memiliki guru yang bersertifikasi, penting juga untuk mempersiapkan para peserta didik untuk berkompetisi di tingkat internasional. Salah satu bentuk partisipasinya adalah mengikuti Cambridge Assessment Test sehingga pencapaian para peserta didik bisa diukur melalui tes berstandar internasional. 

Pada tingkat pendidikan menengah seperti SMP dan SMA, guru bisa melibatkan para siswa dalam seminar maupun kompetisi yang diselenggarakan oleh Cambridge. Para siswa yang terlibat nantinya bisa ditunjuk oleh sekolah sebagai ”tutor” bagi adik tingkat di bawahnya sehingga penerapannya bisa berkesinambungan. 

Teknologi sebagai Pilar 

Untuk mewujudkan hal-hal tersebut, teknologi memegang peran penting sebagai pilar dalam mendorong kemajuan dan perkembangan pendidikan. Teknologi tidak lagi dilihat sebagai alat bantu administrasi, tetapi sebagai pendorong utama perubahan paradigma dalam pendidikan. 

Jenis-jenis platform teknologi pendidikan dalam pembelajaran seperti realitas virtual, augmented reality, learning management system, dan aplikasi pembelajaran digital tidak hanya memberikan pengalaman yang lebih terpersonalisasi pada peserta didik, tetapi juga memungkinkan adanya pemantauan serta pengelolaan data yang lebih baik. 

Oleh karena itu, penerapan kurikulum yang efektif perlu melibatkan seluruh lini baik dari sumber daya manusia (yayasan, guru, staf, dan siswa) maupun prasarana untuk menunjang produktivitas dan pendidikan yang lebih individual. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: