Apakah Kurikulum Cambridge di Sekolah Sudah Benar Cambridge?
ILUSTRASI Apakah Kurikulum Cambridge di Sekolah Sudah Benar Cambridge?-AI/Gemini-
PENGINTEGRASIAN kurikulum Cambridge dalam kurikulum sekolah merupakan salah satu bentuk implementasi kebijakan sekolah dalam menyiapkan peserta didik dalam persaingan global.
Namun, polemik terkait kurikulum tersebut bermunculan seiring dengan menjamurnya sekolah baik di Surabaya maupun di Sidoarjo yang mempromosikan nama ”Cambridge” dalam promosi sekolah.
Pertanyaan yang sering muncul adalah: (1) Seberapa efektif kurikulum Cambridge mampu mempersiapkan para peserta didik dasar dan menengah dalam persaingan internasional dan (2) bagaimana cara guru mengintegrasikan kurikulum tersebut dalam KBM (kegiatan belajar mengajar) di sekolah.
Kurikulum Cambridge: Pedagogi vs Demagogi
Pada awalnya, kurikulum Cambridge ini dinamai sebagai Cambridge International Examination. Seiring berjalannya waktu, nama tersebut bertransformasi menjadi Cambridge Assessment International Education (Verury Verona Handayani, 2020). Perubahan nama tersebut dianggap sebagai cikal bakal lahirnya kurikulum Cambridge di Indonesia.
BACA JUGA:Kurikulum Berbasis AI, Disparitas Sosial, dan Dinamika Aktor-Jaringan
BACA JUGA:Strategi Pembelajaran Berdeferensiasi pada Kurikulum Merdeka
Esensi dari kurikulum Cambridge itu sendiri adalah menumbuhkan kesiapan siswa dalam bersaing di tingkat global. Maka dari itu, pembelajarannya ditekankan pada menjawab pertanyaan ”bagaimana” untuk memperoleh pengetahuan tersebut dibandingkan dengan ”apa” yang saya peroleh dari pembelajaran ini.
Siswa diajari bagaimana mencintai proses pembelajaran tersebut melalui kombinasi active learning, inquiry-based, serta penguasaan konsep teoretis agar siswa mampu memperoleh pengetahuan secara holistik. Penggabungan dari beberapa konsep belajar tersebut diharapkan menumbuhkan kebiasaan belajar siswa yang reflektif dan inovatif (Widjanarko, 2018).
Penerapan kurikulum Cambridge itu sudah menyasar beberapa sekolah dan madrasah yang ada di daerah Surabaya dan Sidoarjo. Beberapa sekolah bahkan ”memajang” tulisan tersebut sebagai bagian integral dari fokus pembelajaran.
Mekanisme pembelajaran dan penilaian pun disesuaikan sedemikian rupa agar mampu mengakomodasi inti dari kurikulum Cambridge tersebut.
BACA JUGA:Darurat Kurikulum Keluarga
BACA JUGA:ITS Bekerjasama Dengan ASU Kembangkan Kurikulum Semikonduktor
Namun, implementasi kebijakan itu diiringi oleh polemik apakah kurikulum Cambridge murni menjadi pedagogi yang mengedepankan kualitas peserta didik atau menjadi demagogi daya tarik sekolah agar dapat lebih banyak menjaring calon customer mereka?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: