Purbaya atau Suahasil? Gak Penting!

Purbaya atau Suahasil? Gak Penting!

ILUSTRASI Purbaya atau Suahasil? Gak Penting!.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Injeksi modal ditunda. Ekspansi bisnis ditangguhkan. Pembelian obligasi dikurangi. Investor asing melakukan rebalancing. Bahkan, tanpa satu pun kebijakan berubah, persepsi akan perubahan kebijakan sudah cukup untuk menggerakkan pasar.

Itulah paradoks pasar: ketidakpastian tentang sebuah kebijakan dapat menghasilkan konsekuensi ekonomi sebelum kebijakan itu sendiri lahir.

Ada setidaknya tiga perspektif teori yang dapat menjelaskan fenomena tersebut. 

Pertama, efficient market hypothesis (EMH). Dalam perspektif itu, harga aset dengan cepat merefleksikan situasi pasar. Ketika pergantian menteri keuangan diumumkan, pasar segera menghitung ulang prospek defisit, penerbitan utang, nilai tukar, suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi. 

BACA JUGA:Prabowo Minta Menkeu Suahasil Jaga Kesehatan dan Kredibilitas APBN Demi Stabilkan Ekonomi RI

BACA JUGA:Menkeu Purbaya: Anggaran MBG Kemungkinan Dipangkas di Bawah Rp200 Triliun Tahun Ini

Jika informasi tersebut dianggap negatif, harga saham atau obligasi turun; jika positif, harga naik. Karena itu, gejolak pasar bukan berarti pasar ”panik”. Sangat boleh jadi pasar sedang melakukan repricing secara rasional.

Kedua, teori signaling dan political risk. Pergantian pejabat adalah sebuah sinyal. Nama pejabat, latar belakang, reputasi, pandangan ekonomi, dan afiliasi politiknya menjadi informasi yang dapat digunakan investor untuk memprediksi kebijakannya. 

Karena itu, dua orang dengan jabatan sama dapat menghasilkan reaksi pasar yang berbeda. Menteri keuangan yang dikenal konservatif terhadap defisit memberikan sinyal berbeda dari menteri yang agresif mengejar pertumbuhan melalui belanja pemerintah. Gubernur bank sentral yang dikenal hawkish juga memberikan sinyal berbeda dari gubernur yang lebih akomodatif.

Ketiga, behavioral finance dan teori reflexivity. Di sinilah perilaku pasar menjadi jauh lebih menarik. Investor bukan mesin penghitung yang selalu rasional. Mereka memiliki fear, greed, herd behavior, dan availability bias. Headline mengenai pergantian pejabat dapat menciptakan preseden yang menjadi acuan pemain pasar.

Harga berisiko turun karena investor cemas. Investor lain melihat harga yang menukik, lalu ikut menjual. Penurunan harga berpotensi menjadi bukti baru bahwa memang ada sesuatu yang salah. 

Lahirlah lingkaran umpan balik antara persepsi dan realitas. Pasar, dalam kondisi tertentu, tidak hanya mencerminkan realitas. Pasar pun bisa menciptakan realitas.

Pengalaman Inggris pada 2022 memberikan ilustrasi ekstrem. Ketika Menteri Keuangan Kwasi Kwarteng mengumumkan mini-budget PM Liz Truss, pasar bereaksi keras. 

Paket pemotongan pajak sekitar GBP45 miliar yang tidak sepenuhnya disertai pembiayaan yang meyakinkan membuat investor meragukan kredibilitas fiskal pemerintah. Pound sterling jatuh ke sekitar USD1,03, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah Inggris melonjak tajam.

Kwarteng akhirnya di-reshuffle dan digantikan Jeremy Hunt. Namun, yang menarik, pasar tidak otomatis tenang hanya karena menteri diganti. Pasar masih menunggu perubahan arah kebijakan yang baru. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: