Menegaskan Pembelajaran STEM Indonesia: Berani Mencoba, Kreatif Mencipta

Menegaskan Pembelajaran STEM Indonesia: Berani Mencoba, Kreatif Mencipta

ILUSTRASI Menegaskan Pembelajaran STEM Indonesia: Berani Mencoba, Kreatif Mencipta.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Kreativitas merupakan kemampuan melihat persoalan dari sudut pandang baru dan menemukan kemungkinan solusi. Dalam pembelajaran STEM, kreativitas dapat tumbuh ketika murid diberi masalah nyata kehidupannya.

Bagaimana mengurangi sampah plastik di sekolah? Bagaimana merancang alat untuk menghemat penggunaan listrik? Bagaimana membuat kebun sekolah lebih produktif? Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang dapat mengubah pembelajaran dari sekadar proses menerima pengetahuan menjadi proses menciptakan pengetahuan.

Miskonsepsi STEM Mahal

Kemendikdasmen mengemas miskonsepsi itu dengan pendekatan STEM 5M: mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful. Pendekatan itu menekankan bahwa STEM harus dapat diterapkan secara sederhana, sesuai kondisi sekolah, menyenangkan, dilakukan secara sadar dengan tujuan yang jelas, dan memiliki makna bagi kehidupan murid.

Tantangan besar dalam implementasi STEM adalah anggapan bahwa pembelajaran STEM harus menggunakan laboratorium modern, robot, komputer canggih, atau teknologi mahal. Pembelajaran STEM dapat dimulai dari lingkungan terdekat. 

Botol bekas dapat menjadi bahan eksperimen. Bambu dapat digunakan untuk merancang konstruksi sederhana. Air hujan dapat menjadi objek penelitian. Sampah sekolah dapat menjadi persoalan rekayasa. Kebun sekolah dapat menjadi laboratorium sains yang hidup.

Keterbatasan fasilitas sekolah tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berinovasi. Malah sebaliknya, salah satu kekuatan STEM adalah kemampuannya memanfaatkan sumber daya lokal dan persoalan nyata sebagai bahan pembelajaran. 

Sekolah di perkotaan dapat mengembangkan proyek tentang energi, transportasi, dan teknologi digital. Sekolah di daerah pertanian dapat mengembangkan STEM berbasis pangan dan pertanian. 

Sekolah di wilayah pesisir dapat mengembangkan proyek terkait lingkungan laut, air, dan perubahan iklim. Maknanya adalah setiap daerah memiliki fenomena masing-masing dan permasalahan yang dapat digunakan sebagai laboratorium pembelajaran.

Guru sebagai Penggerak Ekosistem Inovasi

Keberhasilan STEM sangat ditentukan oleh kualitas pengalaman belajar yang diciptakan guru. Dalam pembelajaran STEM, guru tidak harus selalu menjadi satu-satunya sumber jawaban. Guru harus berperan sebagai fasilitator yang menghidupkan rasa ingin tahu murid. 

Guru dapat memulai pembelajaran dengan pertanyaan sederhana. Mengapa hal ini terjadi? Bagaimana jika dicoba cara lain? Apa yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini? Bagaimana cara mengetahui dan memastikan bahwa solusi tersebut berhasil?

Dalam konteks ini, pembelajaran STEM dapat membangun budaya kelas yang berbeda. Guru sebagai penggerak ekosistem inovasi berkesempatan menjadikan kelas tidak hanya sebagai tempat mendengarkan, tetapi juga menjadi ruang berdiskusi, mengamati, mencoba, merancang, menguji, memperbaiki, dan menciptakan. 

Kemendikdasmen menekankan pentingnya rasa ingin tahu, pembelajaran interaktif, diskusi, kolaborasi, dan keterlibatan aktif murid dalam implementasi pembelajaran STEM.

STEM untuk Semua Murid

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: