Gus dan Gus

Gus dan Gus

ILUSTRASI Gus dan Gus.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Mungkin kini NU memerlukan gerakan kembali ke khittah tahap kedua. Bukan untuk menjauhkan warga NU dari politik. Bukan pula untuk melarang kader NU menjadi politisi. Tetapi, untuk menegaskan kembali batas antara khidmah jam’iyah dan kepentingan kekuasaan.

Semua pasti setuju bahwa NU terlalu besar jika hanya diperebutkan. NU harus diurus, dilayani, dan diwariskan dalam keadaan lebih baik kepada generasi berikutnya. Generasi gus-gus baru yang makin dinamis. Dari Gus Khittah, Gus Politik, dan Gus apa lagi?

Saya jadi teringat perkataan Gus Mus. NU ini milik Allah. Bukan milik ketua umum, rais aam, politisi, pemerintah, apalagi kelompok tertentu. Manusia hanya memperoleh kesempatan sementara untuk berkhidmah di dalamnya.

Barangkali sikap seperti itulah yang membuat Gus Mus menolak menjadi rais aam. Bukan karena tidak mencintai NU. Justru karena sangat mencintainya. Beliau tahu kapan harus maju, kapan harus membantu, dan kapan harus memberikan jalan kepada orang lain.

Dalam perspektif itu, yang mencemaskan bukan ketika NU kekurangan orang yang ingin memimpin. Yang paling mengkhawatirkan adalah ketika terlalu banyak orang merasa hanya dirinya yang pantas memimpin NU.

NU telah melewati penjajahan, pergantian rezim, konflik politik, dan berbagai pertarungan kekuasaan. NU akan tetap hidup, dengan atau tanpa kita. Seperti pesan Gus Mus, tak perlu terlalu ge-er ingin menyelamatkan NU. Jangan-jangan, justru kitalah yang diselamatkan NU. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: