Jejak Iman dan Cahaya Masa Depan di Guangzhou, Tiongkok

Jejak Iman dan Cahaya Masa Depan di Guangzhou, Tiongkok

Rombongan PW GP Ansor Jatim di Guangzhou, Tiongkok.-Dokumentasi Pribadi-

GUANGZHOU, HARIAN DISWAY — Setelah menempuh penerbangan sekitar enam jam dari Surabaya, rombongan Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur tiba di Bandara Internasional Guangzhou Baiyun, Rabu, 23 September 2026. Bagi sebagian anggota rombongan, perjalanan tersebut menjadi pengalaman pertama keluar dari Indonesia.

Rombongan itu terdiri atas para kepala desa kader Ansor yang menjadi pemenang Ansor Jatim Agro Innovation Award. Mereka mendapat kesempatan mengunjungi Tiongkok sebagai bentuk apresiasi atas inovasi di bidang pertanian dan ketahanan pangan yang dikembangkan di desa masing-masing.

Tiga kepala desa yang mengikuti perjalanan tersebut adalah Hamid Almauludi, Kepala Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar; Erwan Santoso, Kepala Desa Krisik, Kecamatan Pudak, Kabupaten Ponorogo; dan Fadal, Kepala Desa Lebak, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik.

Hamid mengembangkan pertanian berbasis teknologi cerdas melalui sistem pemantauan digital dan energi terbarukan. Erwan melakukan pembaruan dalam pengelolaan pertanian dan pemanfaatan sumber daya lingkungan secara berkelanjutan.

BACA JUGA:Ketua BPP Masjid Al Akbar Surabaya Kunjungi Tiongkok untuk Pertukaran Budaya dan Agama di Guangzhou


Musaffa Safril menilai kemajuan Guangzhou membuktikan inovasi dapat berjalan beriringan dengan nilai, tradisi, dan keimanan-Ansor Jatim-

Kemudian, Fadal mengembangkan pertanian digital berbasis pemberdayaan warga untuk memperkuat ketahanan pangan di Pulau Bawean.

Ketua PW GP Ansor Jatim Musaffa Safril menceritakan setibanya di Bandara Baiyun, sejumlah anggota rombongan sempat mengalami kesulitan mengisi dokumen kedatangan secara daring. 

“Petugas bandara membantu mereka satu per satu hingga proses imigrasi dan pemeriksaan barang berjalan lancar,” kata Musaffa.

Di area kedatangan, rombongan disambut pemandu lokal, Feiyan Wei atau yang akrab dipanggil Fefe. Perempuan muda itu belum fasih berbahasa Indonesia karena ini merupakan pengalaman pertamanyi memandu rombongan dari Indonesia. 

BACA JUGA:Yum Cha, Tradisi Minum Teh yang Menyatukan Keluarga di Guangzhou

BACA JUGA:Sejarah Siomay atau Shao Mai di Tiongkok, Ragam Cita Rasa dari Guangzhou hingga Mongolia Dalam

“Namun, keterbatasan bahasa justru menciptakan suasana akrab,” ungkap Musaffa.

Destinasi pertama rombongan adalah Masjid Huaisheng di kawasan kota tua Guangzhou. Masjid tersebut dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Tiongkok. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: