Pidato sang Kiai untuk Para Pemegang Amanah
ILUSTRASI Pidato sang Kiai untuk Para Pemegang Amanah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Maka, kredibilitas sesungguhnya tidak dapat dibuat oleh humas. Kredibilitas dapat diperkuat melalui pesan yang dikomunikasikan, tetapi sumbernya tetap perilaku. Seseorang boleh mempunyai tim media terbaik, kamera tercanggih, dan jutaan pengikut. Namun, jika kata terus-menerus berjarak dengan laku, publik lambat laun akan membaca jarak tersebut.
Anosmia Empati
Pidato dari Gontor itu terasa penting karena kita hidup dalam ruang publik yang kadang seperti mengalami anosmia empati. Istilah tersebut tentu bukan diagnosis klinis. Penulis menggunakannya sebagai metafora, yaitu keadaan ketika seseorang masih mampu melihat, berbicara, dan bereaksi, tetapi makin sulit ”mencium” kegelisahan orang lain.
Gejalanya mudah ditemukan. Ketika masyarakat sedang menghadapi kesulitan ekonomi, masih ada yang merasa waktunya tepat memamerkan kemewahan. Ketika warga sedang mengalami musibah, ada pejabat atau figur publik yang kadang lebih sibuk menjelaskan keberhasilan daripada mendengarkan keluhan.
Ketika sebuah kebijakan menimbulkan persoalan, energi komunikasi terkadang lebih banyak digunakan untuk memperbaiki citra daripada memperbaiki pengalaman warga.
Semua itu tidak selalu lahir dari niat buruk. Sering kali masalahnya justru sederhana, yakni hilangnya kemampuan membaca konteks. Dalam komunikasi, niat baik saja tidak cukup.
Orang yang berbicara harus mempunyai kemampuan membayangkan bagaimana kata-katanya didengar oleh mereka yang kehidupannya berbeda.
Empati karena itu bukan aksesori kesopanan. Ia merupakan kompetensi komunikasi. Pemimpin yang memiliki empati tidak harus selalu menyetujui publik. Tetapi, ia tahu kapan harus menjelaskan, kapan harus membantah, kapan harus mengakui masalah, dan –yang sering paling sulit– kapan harus mendengarkan.
Berani Terus Terang
Ada konsep menarik dari Michel Foucault: parrhesia. Yakni, keberanian berbicara terus terang karena seseorang merasa mempunyai kewajiban moral untuk mengatakan sesuatu yang diyakininya benar.
Parrhesia bukan kegemaran memaki, juga bukan keberanian menyerang orang lain demi tepuk tangan. Sebab, justru bicara apa adanya ada risiko di dalamnya. Di Gontor suasananya menarik.
Seorang kiai berbicara di hadapan presiden Republik Indonesia dan banyak pemegang jabatan. Namun, ia tidak berteriak. Tidak pula menyebut nama. Humor dipilihnya sebagai bahasa.
Pesannya justru menjadi lebih tajam. Itulah salah satu seni komunikasi bahwa kritik tidak selalu membutuhkan suara keras untuk terdengar keras. Kadang sindiran yang disampaikan sambil tersenyum justru bertahan lebih lama dalam ingatan daripada pidato yang dipenuhi seruan.
Gaya mengkritik yang mempunyai wibawa semacam itu tidak mudah. Menjadi pesan kuat, karena Pak Kiai rela meletakkan dirinya di bawah ukuran moral yang sama.
Kalimat ”kalau saya melebihi santri, kritik saya” sangat kuat. Sangat berbeda dengan kebiasaan sebagian orang yang gemar membuat standar bagi rakyat, tetapi menyediakan pengecualian bagi dirinya sendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: