Pidato sang Kiai untuk Para Pemegang Amanah

Pidato sang Kiai untuk Para Pemegang Amanah

ILUSTRASI Pidato sang Kiai untuk Para Pemegang Amanah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Jabatan dan Jarak

Setiap jabatan membawa satu bahaya komunikasi. Lazimnya, makin tinggi posisi seseorang, makin mudah ia hanya mendengar suara yang menyenangkan. Karena ada protokol, ada staf, dan kemungkinan ada orang yang memilih kata. 

Ada laporan yang telah diringkas dan ada orang yang mungkin lebih senang mengatakan ”aman” daripada membawa kabar buruk ke meja pimpinan.

Jarak fisik lambat laun dapat menjadi jarak emosional. Di situlah pemimpin membutuhkan orang yang berani mengatakan sesuatu apa adanya. 

Ulama, akademisi, jurnalis, seniman, masyarakat sipil, bahkan warga biasa mempunyai fungsi penting bukan karena mereka selalu benar, melainkan karena kekuasaan membutuhkan cermin.

Cermin yang baik tidak bertugas membuat wajah terlihat lebih tampan. Cermin menunjukkan wajah sebagaimana adanya. Mungkin itulah salah satu pesan penting dari Gontor.

Pemimpin tidak selalu membutuhkan tambahan orang yang mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Sesekali ia membutuhkan seseorang yang cukup dekat untuk peduli, tetapi cukup merdeka untuk berkata jujur.

Wibawa Kata

Kiai Hasan juga berbicara tentang sejarah. Gontor, katanya, tidak ingin sekadar menyerah kepada sejarah, tetapi ikut membangun sejarah. 

Dalam peringatan satu abadnya, pesan itu terasa relevan: pendidikan tidak hanya mewariskan pengetahuan, tetapi juga membentuk watak manusia yang kelak menentukan ke mana sejarah bergerak.

Barangkali itu pula pekerjaan besar bangsa ini. Kita tidak kekurangan orang pintar berbicara. Kita bahkan hidup di tengah banjir pernyataan, konferensi pers, unggahan, siniar, baliho, dan pidato.

Penulis mencermati bahwa saat ini yang lebih sulit ditemukan adalah kata-kata yang mempunyai wibawa moral. Wibawa itu tidak datang dari pangkat. Tidak tumbuh dari jumlah pengikut. Tidak pula lahir karena seseorang paling sering muncul di layar. Wibawa kata tumbuh ketika kata mempunyai rumah dalam tindakan.

Pidato sang kiai dari Gontor pada akhirnya bukan hanya untuk presiden yang duduk di hadapannya. Pidato itu dapat dibaca sebagai pesan untuk siapa saja yang sedang memegang amanah: pejabat, pemimpin organisasi, pendidik, pemuka agama, figur publik, bahkan kita yang mempunyai sedikit saja kuasa atas orang lain.

Sebab, jabatan dapat membuat orang didengar. Namun, hanya keteladanan yang membuat perkataannya dipercaya. (*)

*) Suko Widodo adalah dosen Departemen Komunikasi, FISIP, Universitas Airlangga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: