Anak Muda Merayakan Ludruk
KISAH CINTA Candra dan Kirana yang tragis bin pahit dalam Langit Tak Lagi Sama memukau anak-anak muda yang menyesaki Pendopo Taman Budaya Jawa Timur pada Sabtu malam, 26 September 2026.--Dokumentasi Taman Budaya Jawa Timur
Itu artinya misi regenerasi penonton teater tradisi tercapai. Itu bukti bahwa seni pertunjukan lokal mampu tetap hidup jika dikemas sesuai bahasa zamannya.
BACA JUGA:Ada Ludruk Disuguhkan saat Event Ngabuburit Asik di Tugu Pahlawan Surabaya
BACA JUGA:Ziarah Kebangsaan Refleksi Indonesia Damai Diramaikan Ludruk Kolaborasi
Gerakan membumikan ludruk ke kantong-kantong anak muda membutuhkan keberanian luar biasa. Keluar dari zona nyaman kemapanan tradisi baku bukan perkara gampang. Keputusan mengawinkan instrumen barat dengan gamelan demi lahirnya identitas estetika baru juga butuh pemikiran matang.
Namun, at the end of the day, hasilnya sepadan. Kini, anak-anak muda Jatim merayakan ludruk sebagai ruang ekspresi bersama yang relevan dengan tema keseharian mereka. Pentas ludruk malam itu, sekali lagi, mencatat pergeseran selera kultural anak muda terhadap seni pertunjukan lokal.
Panggung rakyat bertransformasi menjadi ruang pertemuan estetika tradisi bersama kegelisahan psikologis remaja masa kini. Bahwa remuknya urusan asmara harus dirayakan, tidak hanya dalam lagu, tapi juga lewat drama di atas panggung. Aduh! (*)
*) Etnomusikolog, Pengajar di ISI Solo
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: