Wajah NU
ILUSTRASI Wajah NU.-Arya/AI-Harian Disway-
Besarnya angka sumber otoritas nonpesantren di kepengurusan NU kali ini sebetulnya masih harus terus ditelusur satu per satu. Jadi, tak perlu buru-buru menjadikannya ukuran pasti. Tapi, ini cukup menjadi pintu masuk untuk membaca perubahan yang sedang berlangsung.
Saya lebih tertarik pada makna sosial di balik susunan itu. Sebab, kepengurusan sebuah organisasi sering menjadi cermin dari masyarakat yang diwakilinya. Ketika kehidupan warganya berubah, kebutuhan terhadap pemimpinnya ikut berubah.
BACA JUGA:Tongkat NU
BACA JUGA:NU Baru
Warga NU sekarang tentu tidak seluruhnya tinggal di sekitar pesantren. Ada yang bekerja di pabrik. Menjadi pegawai kantor. Mengajar di kampus. Mengelola perusahaan. Menjadi dokter, pengacara, dan pekerja kreatif. Ada juga yang mencari nafkah melalui layar telepon genggam.
Mereka tetap membutuhkan bimbingan agama. Namun, persoalan hidupnya makin beragam. Anak sulit mendapatkan pekerjaan. Biaya sekolah terasa berat. Usaha kecil kalah bersaing. Petani tidak mempunyai posisi tawar. Keluarga bingung menghadapi perubahan perilaku anaknya.
Di sinilah kehadiran kalangan profesional menjadi penting. Mereka diharapkan membawa kemampuan membaca persoalan sekaligus mencari jalan keluarnya. Tentu dengan tetap berpijak pada nilai yang selama ini menjadi pegangan NU.
Kalau memakai bahasa sosiologi, ada pertemuan berbagai sumber otoritas. Kiai mempunyai kewibawaan yang tumbuh dari ilmu, keteladanan, dan kepercayaan umat. Profesional mempunyai keahlian yang diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman kerja.
Keduanya bisa saling menguatkan. Kiai memberikan arah. Profesional membantu menerjemahkan arah itu menjadi pekerjaan yang bisa dijalankan. Dengan demikian, hasilnya bisa dirasakan.
Soal ekonomi umat, misalnya. Kita bisa terus mengingatkan pentingnya kemandirian. Tetapi, setelah pengajian selesai, warga membutuhkan jawaban yang lebih praktis. Usaha apa yang layak? Dari mana modalnya? Siapa pembelinya? Bagaimana supaya tidak terjebak utang?
Di situ ekonom, pengusaha, dan ahli manajemen bisa bekerja. Mereka membantu menghitung. Mendampingi. Mempertemukan produsen dengan pasar. Mengajarkan cara mengelola uang dan membangun usaha yang tahan terhadap persaingan.
Begitu juga pendidikan. Kita ingin anak-anak nahdliyin memperoleh pendidikan yang baik. Namun, keinginan itu harus diterjemahkan menjadi mutu sekolah, kemampuan guru, pengelolaan kampus, dan kesempatan belajar yang lebih luas.
Ada pekerjaan yang membutuhkan jaringan. Ada yang memerlukan keahlian. Ada pula yang hanya bisa berjalan kalau masyarakat percaya kepada orang yang menggerakkannya. NU mempunyai peluang mempertemukan semuanya.
Tapi, apakah susunan baru itu otomatis akan mengubah wajah NU? Tentu masih harus kita tunggu beberapa saat. Perlu memberikan kesempatan kepada para pemegang mandat dan seluruh pengurusnya untuk bekerja.
Sampean pasti tahu, nama besar baru menunjukkan adanya potensi. Kita belum tahu kapan potensi itu akan menjadi kekuatan organisasi. Sebab, orang yang berhasil di tempat kerjanya belum tentu bisa bekerja dengan baik dalam organisasi sosial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: